"Beberapa tahun belakangan ini sepertinya DIA memang menjadikanku kuat dan hebat dengan tahapan2 yang diberikan dalam sekup kekuasaanNYA. Dia selalu memberikanku pilihan dan tdk pernah mendikteku. Dan dari pilihan2 itulah Aku banyak belajar tentang arti sebuah perhitungan dan pertimbangan. Pun aku tersadar bahwa semua rekayasa manusia utk menghindarkannya dari tangisan dan nestapa selalu tdk berhasil karna Dia. Dialah yg punya kehendak. Semanis apapun rencanaku utk tetap bertahan di Semarang pasca kuliah, endingnya ttp saja harus angkat koper juga dari sana...."
Demikian pula apa yang terjadi dalam hidup kebanyakan org, mungkin juga termasuk anda. Kadang, kita selalu bermimpi indah dg keberhasilan rencana2 kita dg mengabaikanNYA. Maka, jika kita termasuk org2 spt itu.. jangan salahkan siapapun tatkala kita menjadi org yg sering depresi manakala ketetapanNYA jauh dari apa yg kita impikan. Saya di sini tidak mengatakan bahwa bermimpi itu salah. Bermimpi tdklah salah. Karna apa yg kita dapat pada hari ini pun hasil mimpi kita di masa lalu yg kita perjuangkan. Yang ditekankan di sini adalah mimpi yg lantas mengabaikanNYA. Seolah kita sudah terlalu mantap dg mimpi dan hajat kita pada masa depan sampai2 kita lupa meminta pada yg menjadikannya. Seolaha kitalah yang serba tahu. Menganalisa SWOT sendiri untuk kemudian mencari solusi terbaik (menurut kita). Mungkin secara tak sadar kita sering melakukan itu.
Allah mencintai hambaNYA dg cara yg terlalu sempurna. Bahkan, saking terlalu sempurnanya, seringnya kita tak menyadari bahwa kita dicintaiNYA. Berprasangka baik kepadaNYA pun menjadi sulit sekali dilakukan tatkala ujian sedang menggempur sehingga hati berkecamuk. Mengumpat sejadi-jadinya dan histeris layaknya org paling menderita sejagat. Astagfirullaah..
Pernah ada seseorang yg sempat bercerita tentang ujian yg sedang menimpanya..(mdh2n beliau ridho ceritanya saya ekspose di sini). Ya.. intinya beliau sedang merasa kalut dan shock atas kejadian yg menimpa dirinya dan keluarga. Pada saat ujian (yg menurut Saya luar biasa) itu menimpanya, beliau mati2an berlari mendekat padaNYA dan berusaha membuat gusti Allah kasihan padanya sehingga mencabut ujiannya tersebut. Cara2 yg digunakan utk 'menarik perhatian' Allah sgt elegan. Mulai dari jumlah rakaat shalat malam yg kian bertambah, wirid diperpanjang, puasa sunnah menjadi rutinitas, dan sebagainya.. Kata2 yg keluar dari mulutnya pun menjadi demikian bijaknya. Pokoknya eleganlah...
Saya tdk faham 'perkembangan ujiannya' sekarang (soalnya dah ga pernah crita lagi si..). Tapi rasanya cara-cara elegan yg dulu dipertontonkan pada Saya kian berkurang. Mungkin ujiannya juga sdh berkurang. Jadi, dari sini Saya dapat menarik kesimpulan bahwa ujian berbanding lurus dg elegansi (kosakata baru ni) cara kita mendekat padaNYA. So, mungkin makin berat ujian seseorang, makin elegan Qiyamullailnya.. Makin elegan pula wiridnya... Hebat bukan?
Begitulah DIA mencintai kita. Dengan cara2 yg kadang sulit terjangkau oleh akal dan logika kita. Karena cinta memang tak sama dg logika (lirik lagu ni..). Logika selalu mengedepankan alasan logis utk melakukan atau tdk melakukan sesuatu. Sedangkan cinta.. ia tak perlu alasan karna ia adl alasan itu sendiri. ya.. cinta adl alasan utk melakukan atau tdk melakukan sesuatu. Karna cintalah Allah menguji hambaNya.. dan karna cinta pulalah seorang hamba bisa mendekat pada Tuhannya.. Maka, tidaklah etis manakala kita mengukur cintaNYA dengan apa yg menimpa kita. Karena cintaNYA memang tdk terukur..(tdk terukur? ini bhsa anak matematik bgt, mata kuliah analisa fungsi riil 1).
Kesimpulannya..
Jangan pernah kita menganalisa seberapa besar cintaNYA hanya bermodalkan apa2 yg kita lihat dan dengar. Berhubung cinta adl bahasa hati, ya.. mgkn cukup merasakannya saja. Tdk usah terlalu banyak dianalisa. Yang jelas dan pasti, mencintai Allah itu sgt nikmat dan luar biasa. Smoga kita senantiasa bisa menjaga kemurnian cinta kita hanya untukNya dan tdk menduakanNYA, apalagi dg makhluk ciptaanNYA...Allahu'alam bishowab..:)
Apapun yang telah terjadi pada masa lalu kita bukanlah alasan untuk menjadi lemah dan sarat akan ketidakmampuan. Karena yang terpenting pada hidup ini adalah seberapa besar kita mampu mengalirkan energi positif dalam mencintai apa yang telah Dia berikan untuk kemudian melejitkannya menjadi sesuatu yang mampu kita hasilkan dari hidup....
Tuesday, September 8, 2009
Aku Hanya Ingin Menyampaikannya pada Hatimu..
Belakangan ini, beberapa teman mengeluarkan comment yg cukup membuatku tersenyum sendiri perihal tulisanku. Mulai dari teman yg mengenalku, setengah mengenalku, sedikit mengenal, atau hanya pernah tahu aku, bahkan sampai teman yg jangankan kenal, ketemu langsung saja kita belum pernah. Muatan comment-nya pun bermacam-macam. Ada yg sarat akan kekaguman sampai sarat akan perasaan tidak terima (kesindir maksudnya).. Semua ada! Kadang ku pun berfikir, jika ada satu options lain selain 'comment' dan 'like', yakni 'unlike'.. Kuyakin pasti kan ada yg mengkliknya sehingga di notesku kan ada tulisan: Some people unlike it..:)
Sebetulnya hal yg demikian adalah hal yg sangat wajar mengingat seringnya terjadi kerusakan koneksi pada jaringan (lho..??!). Maksud Saya.. kadang data yg kita kirimkan dapat saja mengalami error pd saat transmisinya sehingga data yg diterima tdk sesuai dgn yg dikirimkan. Inilah yg biasa kita namakan error. Agar data yg diterima sama dengan data pd saat pengiriman, maka kita butuh kode2 pengoreksi error di sini..(hm, kalo bukan org matematik or TI dijamin bingung, ini kan materi skripsi Saya).
Insya ALLAH akan Saya lanjutkan dg bahasa yg lebih umum.. :)
Teman2 yg sdh mengenal Saya sebetulnya dg sendirinya akan memahami mengapa Saya suka sekali menulis spt ini. Bahasa tulisan Saya pun tdk akan jauh berbeda dg bahasa lisan Saya. Sama2 lugas dan 'langsung tembak'. Above all, tdk ada maksud apapun di situ selain apa yg tercantum di situ. Saya hanya ingin berbicara dg hati teman2 yg membaca karna hanya media ini yg bisa membuat kita berkomunikasi (minimal utk waktu ini). Dan itulah memang tujuan dibuatnya beragam notes yg belakangan jadi sering memenuhi wall teman2 (spt skrg..). Afwan jiddan.
Banyak manusia modern yg hidup di zaman ini sering berbicara atas nama kebenaran. Bisa jadi memang kebenaran sungguhan atau mungkin justru hanya sebatas pembenaran atas suatu hal yg belum jelas benar jika itu benar. Banyak pula yg menganggap kebenaran itu adalah suatu hal yg nisbi. Berangkat dari situ pulalah akan muncul banyak sekali opini yg akhirnya meruncing ke arah perdebatan (yg tdk perlu). Berapa banyak manusia yg sering 'pakai urat' dalam menyampaikan kebenaran versinya? Berapa banyak pula manusia yg (juga) 'pakai urat' dalam membenarkan opininya? Seperti itulah kita (termasuk Saya di dalamya) pada masa sekarang ini. Menggunakan tema kebenaran utk menyalahkan opini org lain. Tanpa dasar yg kuat pula.
Idealnya, ketika kita membenarkan atau menyalahkan org lain, kita harus dapat mengeluarkan 'dalil' sbg referensi. Ini ada di surat apa ayat sekian. Atau ini menurut buku karya si Fulan halaman sekian. Bukan berdasar atas rasa pribadi yg kemudian berujung pada konklusi pribadi dan sedikit dibumbui ego yg masih menggantung tinggi. Kalo muatan opini kita dalam membenarkan atau menyalahkan masih seperti itu, maka selamanya apa yg kita bicarakan hanya berhenti pada tahap pepesan kosong belaka. Sama sekali tdk berbobot. Bisa dibayangkan jika ada dua org yg sama2 merasa dirinya benar, dan kemudian mempertahankan kebenaran dengan caranya yg sama sekali tdk cantik itu. Dapat dibayangkan bukan akhirnya seperti apa? Itu jika hanya dua org.. dan Saya sgt yakin jumlah manusia2 spt itu sangatlah banyak di muka bumi ini.
Mental2 seperti itu adalah mental anak2 yg sama sekali belum dewasa. Mental menyalahkan dan mental pembenaran. Menyalahkan org lain jika terpojok dan mengadakan pembenaran2 opini untuk keluar dari keterpojokkan tersebut. Ketika ada suatu keberhasilan yg diraih, maka semua berlomba2 mengklaim keberhasilan tersebut adalah hasil jerih payahnya. Namun manakala ada suatu kesalahan yg terjadi, maka yang ada malah saling melempar bola utk menentukan promotor utama dalam kesalahan tersebut. Saya menulis seperti ini bukannya karna Saya tdk pernah mengalami ini lho..
Mental lain yg (mgkn) masih istiqomah di dalam diri manusia modern adalah mental pecundang, yakni selalu merasa menjadi korban org lain. Ketika sdg ditimpa kesulitan hidup, org tsb dg mudahnya menyalahkan org lain sebagai penyebab kesulitannya. Tipikal org2 jenis ini sangat sulit sekali sadar bahwa ALLAH menyayanginya. Akibatnya, ia menjadi sdkt sekali (bahkan mgkn tdk sama sekali) utk bersyukur pdNY. Muhasabah pun menjadi hal yg paling sulit dilakukan kalau sudah spt ini.
Bagaimana dg teman2?
Saya pun berkali-kali bertanya pada diri Saya sendiri kpn bisa 100% melepaskan diri dari jeratan2 mental seperti ini. Mental menyalahkan, mental pembenaran, dan mental pecundang. ketiga mental yg masih menjerat kaki Saya utk melangkah maju dan selalu menarik mundur langkah Saya ke belakang. Marilah kita bersama-sama mereformasi mental negeri ini dimulai dari yg terdekat, yakni dari mental diri kita masing2. Meski itu sangat sulit karna menurut seorang filsuf Cina (hayo, inget ga sapa?), yg paling sulit ditaklukan adalah diri kita sendiri. Manakala jalan senang dan jalan sulit terbentang, naluri ita akan cenderung memilih jalan senang. Atau tatkala kita dihadapkan pada jalan instan dan jalan berliku, otomatis kita akan pilih yang instan. Mungkin karena kita masih kurang bisa menghargai proses diri kita dalam membuka jalan2 kebaikan itu. ALLAHU'alam bishowab.
Sebetulnya hal yg demikian adalah hal yg sangat wajar mengingat seringnya terjadi kerusakan koneksi pada jaringan (lho..??!). Maksud Saya.. kadang data yg kita kirimkan dapat saja mengalami error pd saat transmisinya sehingga data yg diterima tdk sesuai dgn yg dikirimkan. Inilah yg biasa kita namakan error. Agar data yg diterima sama dengan data pd saat pengiriman, maka kita butuh kode2 pengoreksi error di sini..(hm, kalo bukan org matematik or TI dijamin bingung, ini kan materi skripsi Saya).
Insya ALLAH akan Saya lanjutkan dg bahasa yg lebih umum.. :)
Teman2 yg sdh mengenal Saya sebetulnya dg sendirinya akan memahami mengapa Saya suka sekali menulis spt ini. Bahasa tulisan Saya pun tdk akan jauh berbeda dg bahasa lisan Saya. Sama2 lugas dan 'langsung tembak'. Above all, tdk ada maksud apapun di situ selain apa yg tercantum di situ. Saya hanya ingin berbicara dg hati teman2 yg membaca karna hanya media ini yg bisa membuat kita berkomunikasi (minimal utk waktu ini). Dan itulah memang tujuan dibuatnya beragam notes yg belakangan jadi sering memenuhi wall teman2 (spt skrg..). Afwan jiddan.
Banyak manusia modern yg hidup di zaman ini sering berbicara atas nama kebenaran. Bisa jadi memang kebenaran sungguhan atau mungkin justru hanya sebatas pembenaran atas suatu hal yg belum jelas benar jika itu benar. Banyak pula yg menganggap kebenaran itu adalah suatu hal yg nisbi. Berangkat dari situ pulalah akan muncul banyak sekali opini yg akhirnya meruncing ke arah perdebatan (yg tdk perlu). Berapa banyak manusia yg sering 'pakai urat' dalam menyampaikan kebenaran versinya? Berapa banyak pula manusia yg (juga) 'pakai urat' dalam membenarkan opininya? Seperti itulah kita (termasuk Saya di dalamya) pada masa sekarang ini. Menggunakan tema kebenaran utk menyalahkan opini org lain. Tanpa dasar yg kuat pula.
Idealnya, ketika kita membenarkan atau menyalahkan org lain, kita harus dapat mengeluarkan 'dalil' sbg referensi. Ini ada di surat apa ayat sekian. Atau ini menurut buku karya si Fulan halaman sekian. Bukan berdasar atas rasa pribadi yg kemudian berujung pada konklusi pribadi dan sedikit dibumbui ego yg masih menggantung tinggi. Kalo muatan opini kita dalam membenarkan atau menyalahkan masih seperti itu, maka selamanya apa yg kita bicarakan hanya berhenti pada tahap pepesan kosong belaka. Sama sekali tdk berbobot. Bisa dibayangkan jika ada dua org yg sama2 merasa dirinya benar, dan kemudian mempertahankan kebenaran dengan caranya yg sama sekali tdk cantik itu. Dapat dibayangkan bukan akhirnya seperti apa? Itu jika hanya dua org.. dan Saya sgt yakin jumlah manusia2 spt itu sangatlah banyak di muka bumi ini.
Mental2 seperti itu adalah mental anak2 yg sama sekali belum dewasa. Mental menyalahkan dan mental pembenaran. Menyalahkan org lain jika terpojok dan mengadakan pembenaran2 opini untuk keluar dari keterpojokkan tersebut. Ketika ada suatu keberhasilan yg diraih, maka semua berlomba2 mengklaim keberhasilan tersebut adalah hasil jerih payahnya. Namun manakala ada suatu kesalahan yg terjadi, maka yang ada malah saling melempar bola utk menentukan promotor utama dalam kesalahan tersebut. Saya menulis seperti ini bukannya karna Saya tdk pernah mengalami ini lho..
Mental lain yg (mgkn) masih istiqomah di dalam diri manusia modern adalah mental pecundang, yakni selalu merasa menjadi korban org lain. Ketika sdg ditimpa kesulitan hidup, org tsb dg mudahnya menyalahkan org lain sebagai penyebab kesulitannya. Tipikal org2 jenis ini sangat sulit sekali sadar bahwa ALLAH menyayanginya. Akibatnya, ia menjadi sdkt sekali (bahkan mgkn tdk sama sekali) utk bersyukur pdNY. Muhasabah pun menjadi hal yg paling sulit dilakukan kalau sudah spt ini.
Bagaimana dg teman2?
Saya pun berkali-kali bertanya pada diri Saya sendiri kpn bisa 100% melepaskan diri dari jeratan2 mental seperti ini. Mental menyalahkan, mental pembenaran, dan mental pecundang. ketiga mental yg masih menjerat kaki Saya utk melangkah maju dan selalu menarik mundur langkah Saya ke belakang. Marilah kita bersama-sama mereformasi mental negeri ini dimulai dari yg terdekat, yakni dari mental diri kita masing2. Meski itu sangat sulit karna menurut seorang filsuf Cina (hayo, inget ga sapa?), yg paling sulit ditaklukan adalah diri kita sendiri. Manakala jalan senang dan jalan sulit terbentang, naluri ita akan cenderung memilih jalan senang. Atau tatkala kita dihadapkan pada jalan instan dan jalan berliku, otomatis kita akan pilih yang instan. Mungkin karena kita masih kurang bisa menghargai proses diri kita dalam membuka jalan2 kebaikan itu. ALLAHU'alam bishowab.
Cerita Senja..
Ini adalah kisah perolehan hidayah seorang pria dewasa yang sangat kaya.. kisah nyata seperti dituturkan oleh seorang ustadz pada saat beliau mendapat hidayah yang sungguh luar biasa.
***
Pertengahan Ramadhan dua puluh lima tahun silam...
Aku, seorang pria yg namanya sangat diperhitungkan dalam dunia perbankan. Aku yang dikenal sebagai salah seorang anggota direksi sebuah bank ternama... sangat merasa bosan dengan hidupku yang monoton. duniaku yang hanya itu2 saja. saat harta bukan lagi menjadi sesuatu yang kukejar.. saat aku sudah memiliki semua yg kebanyakan org impikan. Namun, di luar semua itu.. aku merasakan kejenuhan yang amat sangat menekanku dan seluruh persendianku.
penat.. suntuk.. bosan.. dan bingung atas apa yg harus kuusahakan utk kucapai lagi.
Aku bukannya org yg tidak faham agama. aku sering ikut acara bersama di panti2 sosial, mesjid, ataupun berpartisipasi dalam program2 sosial keagamaan lainnya. Namun semua itu sepertinya tidak menyisakan atsar sedikitpun utkku. Jiwa masih gersang dan kerontang pada kefuturan tanpa ujung. Sampai pada satu ketika, saat seorang kenalanku mengajakku pada satu acara di sebuah panti asuhan yang pada akhirnya mengantarkanku pada pertemuanku dg anak itu.
Acara buka bersama seperti itu bukanlah kali pertama yang kuikuti. Biasanya, Aku selalu hadir dalam pembukaannya, kemudian menitipkan sejumlah uang pada pengurus panti, dan buru2 pamit sebelum acara berakhir. Dan itu pulalah yang kulakukan pada acara kali itu. Setelah memberi sejumlah uang pada pengurus panti, aku pun bergegas pamit pada pengelola panti dan bersiap meninggalkan acara.
Namun, saat baru beberapa langkah aku melangkah meninggalkan ruangan panti yang dipakai utk acara tesebut dan berniat menuju parkiran... sorang anak perempuan berkerdung mini menggelayut di kaki kiriku dan berkata..
"om.. om mau kemana?"
"Om mau pulang.." jawabku sambil tersenyum. dan kubertanya lagi "adik kelas berapa? adik mau apa?"
dengan bibirnya yang mungil ia menjawab, "nol kecil.."
Lalu kutanya lagi "ade udah punya baju baru utk lebaran?" karna kupikir ia kan meminta itu padaku.
dia menggangguk sambil terus menggelayut di kaki kiriku.
"sepatu baru?" tanyaku lagi. dan lagi2 anak mengangguk.
Ternyata dia sudah punya baju baru dan sepatu baru utk lebaran. Aku semakin tak mengerti apa yang anak itu inginkan dariku.
Beberapa menit kemudian aku sempat bingung dibuatnya. Aku bingung apa yang sesungguhnya diinginkan anak itu.
Dan kutanya saja padanya,"memangnya adik mau apa?"
Jujur, saat itu aku langsung membayangkan berapa banyak anggaran yang harus kukeluarkan utk membuat anak itu melepaskan tangannya dari kaki kiriku. ntah apa yang kan dia minta.
Kuulangi lagi,"memangnya adik mau apa?"
Dia berfikir.. dan dg ragu2 dia bertanya balik,"mm..boleh? om ga marah?"
Aku semakin penasaran dan bingung.."iya.. adik mau apa? om ga marah kok.."
Dia kembali memastikan, "bener om ga marah?"
Aku mengangguk dan memasang senyum termanisku utknya...
Sampai pada akhirnya dia mengatakan, "mmm..mau panggil om 'ayah'... boleh om?"
ALLAH!
Aku tersentak. Pada saat itu aku seperti disadarkan olehNYA. Ada desir hangat yang mengalir dalam aliran darahku. Rasa yang sudah lama tidak pernah kurasakan.. ntah apa namanya..
Perbincanganku dg gadis kecil yang (pada akhirnya kutahu namanya Sarah) itu pun kulanjutkan pada tempat yang lebih kondusif dan tidak dg posisi dia menggelayut di kakiku lagi..
Kami duduk bersama..
"Nah, sekarang adik mau apa lagi? Ayah mau memberi apapun yang adik inginkan.." Aku berusaha mengakrabkan diri dg 'anakku'.
"sarah boleh minta lagi ayah?" dia merajuk. menggemaskan sekali.
"ya sayang.. sekarang kan om udah jadi ayah sarah. sarah boleh minta apapun.."
"benar ayah?" matanya mengerling indah.
"iya.. uang ayah banyak lho.." sembari aku menunjukkan dompetku yang isinya penuh dg uang (zaman dulu belum ada credit card).
"boleh ayah?"
"iya.. bilang saja. sarah maunya apa?"
Sarah sempat terdiam beberapa saat. Sepertinya keraguannya utk mengatakan apa yg diinginkannya datang dan hilang sehingga ia diam seribu bahasa sepeti ini.
"Ayo Sarah anakku... bilang saja sama ayah.."
Perlahan dia menjawab lirih..
"mmm...jangan marah ya ayah... sarah mau.. kalau ayah datang ke sini lagi, sarah dibawakan foto ayah, foto ibu, dan foto kakak..."
"Untuk apa sarah?" Aku bingung dibuatnya.
"Untuk Sarah bawa ke sekolah trus sarah lihatin ke guru sama tmn2 sarah kalo sarah sekarang udah punya ayah, ibu, dan kakak. Jadi sarah ga sendirian lagi. Sarah juga sama kaya tmn2 yg punya ayah, ibu dan kakak juga.." jawabnya polos.
Utk kedua kalinya aku dibuat trenyuh oleh kalimat yang meluncur dari bibir mungilnya. betapa sederhananya hidup anak2, termasuk sarah. Ia dapat dibahagiakan 'hanya' dg panggilan 'ayah' dan lembaran2 foto. Sangat kontras dg hidupku dan hidup org2 dewasa pada umumnya...
Allah,terima kasih telah Kau titipkan percikan hidayahMu pada gadis mungil bernama Sarah ini. Ia telah berhasil meruntuhkan benteng keangkuhanku yang telah berdiri kokoh selama lebih dari 30 tahun lamanya. Ia telah membangunkanku dari keterlenaan dan keterpukauan pada sesuatu yang fana..
***
Smoga bermanfaat.:)
Esp 4 my beloved sister, mbDhun.. jazakillah khoiron jaza' telah menyongsongku di usia 23 ini. Trmksh tlh mengeluarkanku dari ruang gelap yg sempat lama kusinggahi. Kan kubiarkan luka itu mengering tanpa perlu kuobati. Hingga pada suatu masa DIA kan menitipkan solusi atas smuanya pada diri ini. dan terakhir, Ijinkan ak menyayangimu dg caraku sndiri yg mungkin masih sangat sulit kau mengerti..:)ay
4 my little brother, Gayuh.. jazakallah khoiron jaza' buat kesabaranny punya 'mbak' yg seenaknya ndiri ini. kuliah yg bener ya de.. jgn kebanyakkan syuro & melupakkan kuliah. pokoya max 4 taun!! hehe..;p. smoga mbak santi bisa terus berproses utk jadi mbak yg lbh baik lagi buat gayuh.. Luv u.. oia, hadiahnya dah kubeliin nih..:D
and 4 saudara2 seperjuanganku.. partner2 dakwahku.. smuanya.. jazakumulloh khoiron katsiir utk setiap catatan yg tertorehkan. Smua punya tempat khusus di hatiku :). Trmksh tlh mengantarkanku pada hidayah yg luarbiasa ini..
Sungguh, kalian smua adl 'anugerah terindah yg pernah kumiliki'.. ttp sebut namaku dalam robithoh kalian ya..(ngarep!)
Buat semua org2 yg mengenalku, ntah dlm wadah yg mana (IWP, Smunsasiers, Undip, Depdagers'08, Bapokers). Yang mengenalku sbg santi ataupun tejha.. Smoga ALLAH senantiasa mengekalkan ukhuwah qt karna kecintaan kepadaNYA. Terimakasih utk semuanya..
***
Pertengahan Ramadhan dua puluh lima tahun silam...
Aku, seorang pria yg namanya sangat diperhitungkan dalam dunia perbankan. Aku yang dikenal sebagai salah seorang anggota direksi sebuah bank ternama... sangat merasa bosan dengan hidupku yang monoton. duniaku yang hanya itu2 saja. saat harta bukan lagi menjadi sesuatu yang kukejar.. saat aku sudah memiliki semua yg kebanyakan org impikan. Namun, di luar semua itu.. aku merasakan kejenuhan yang amat sangat menekanku dan seluruh persendianku.
penat.. suntuk.. bosan.. dan bingung atas apa yg harus kuusahakan utk kucapai lagi.
Aku bukannya org yg tidak faham agama. aku sering ikut acara bersama di panti2 sosial, mesjid, ataupun berpartisipasi dalam program2 sosial keagamaan lainnya. Namun semua itu sepertinya tidak menyisakan atsar sedikitpun utkku. Jiwa masih gersang dan kerontang pada kefuturan tanpa ujung. Sampai pada satu ketika, saat seorang kenalanku mengajakku pada satu acara di sebuah panti asuhan yang pada akhirnya mengantarkanku pada pertemuanku dg anak itu.
Acara buka bersama seperti itu bukanlah kali pertama yang kuikuti. Biasanya, Aku selalu hadir dalam pembukaannya, kemudian menitipkan sejumlah uang pada pengurus panti, dan buru2 pamit sebelum acara berakhir. Dan itu pulalah yang kulakukan pada acara kali itu. Setelah memberi sejumlah uang pada pengurus panti, aku pun bergegas pamit pada pengelola panti dan bersiap meninggalkan acara.
Namun, saat baru beberapa langkah aku melangkah meninggalkan ruangan panti yang dipakai utk acara tesebut dan berniat menuju parkiran... sorang anak perempuan berkerdung mini menggelayut di kaki kiriku dan berkata..
"om.. om mau kemana?"
"Om mau pulang.." jawabku sambil tersenyum. dan kubertanya lagi "adik kelas berapa? adik mau apa?"
dengan bibirnya yang mungil ia menjawab, "nol kecil.."
Lalu kutanya lagi "ade udah punya baju baru utk lebaran?" karna kupikir ia kan meminta itu padaku.
dia menggangguk sambil terus menggelayut di kaki kiriku.
"sepatu baru?" tanyaku lagi. dan lagi2 anak mengangguk.
Ternyata dia sudah punya baju baru dan sepatu baru utk lebaran. Aku semakin tak mengerti apa yang anak itu inginkan dariku.
Beberapa menit kemudian aku sempat bingung dibuatnya. Aku bingung apa yang sesungguhnya diinginkan anak itu.
Dan kutanya saja padanya,"memangnya adik mau apa?"
Jujur, saat itu aku langsung membayangkan berapa banyak anggaran yang harus kukeluarkan utk membuat anak itu melepaskan tangannya dari kaki kiriku. ntah apa yang kan dia minta.
Kuulangi lagi,"memangnya adik mau apa?"
Dia berfikir.. dan dg ragu2 dia bertanya balik,"mm..boleh? om ga marah?"
Aku semakin penasaran dan bingung.."iya.. adik mau apa? om ga marah kok.."
Dia kembali memastikan, "bener om ga marah?"
Aku mengangguk dan memasang senyum termanisku utknya...
Sampai pada akhirnya dia mengatakan, "mmm..mau panggil om 'ayah'... boleh om?"
ALLAH!
Aku tersentak. Pada saat itu aku seperti disadarkan olehNYA. Ada desir hangat yang mengalir dalam aliran darahku. Rasa yang sudah lama tidak pernah kurasakan.. ntah apa namanya..
Perbincanganku dg gadis kecil yang (pada akhirnya kutahu namanya Sarah) itu pun kulanjutkan pada tempat yang lebih kondusif dan tidak dg posisi dia menggelayut di kakiku lagi..
Kami duduk bersama..
"Nah, sekarang adik mau apa lagi? Ayah mau memberi apapun yang adik inginkan.." Aku berusaha mengakrabkan diri dg 'anakku'.
"sarah boleh minta lagi ayah?" dia merajuk. menggemaskan sekali.
"ya sayang.. sekarang kan om udah jadi ayah sarah. sarah boleh minta apapun.."
"benar ayah?" matanya mengerling indah.
"iya.. uang ayah banyak lho.." sembari aku menunjukkan dompetku yang isinya penuh dg uang (zaman dulu belum ada credit card).
"boleh ayah?"
"iya.. bilang saja. sarah maunya apa?"
Sarah sempat terdiam beberapa saat. Sepertinya keraguannya utk mengatakan apa yg diinginkannya datang dan hilang sehingga ia diam seribu bahasa sepeti ini.
"Ayo Sarah anakku... bilang saja sama ayah.."
Perlahan dia menjawab lirih..
"mmm...jangan marah ya ayah... sarah mau.. kalau ayah datang ke sini lagi, sarah dibawakan foto ayah, foto ibu, dan foto kakak..."
"Untuk apa sarah?" Aku bingung dibuatnya.
"Untuk Sarah bawa ke sekolah trus sarah lihatin ke guru sama tmn2 sarah kalo sarah sekarang udah punya ayah, ibu, dan kakak. Jadi sarah ga sendirian lagi. Sarah juga sama kaya tmn2 yg punya ayah, ibu dan kakak juga.." jawabnya polos.
Utk kedua kalinya aku dibuat trenyuh oleh kalimat yang meluncur dari bibir mungilnya. betapa sederhananya hidup anak2, termasuk sarah. Ia dapat dibahagiakan 'hanya' dg panggilan 'ayah' dan lembaran2 foto. Sangat kontras dg hidupku dan hidup org2 dewasa pada umumnya...
Allah,terima kasih telah Kau titipkan percikan hidayahMu pada gadis mungil bernama Sarah ini. Ia telah berhasil meruntuhkan benteng keangkuhanku yang telah berdiri kokoh selama lebih dari 30 tahun lamanya. Ia telah membangunkanku dari keterlenaan dan keterpukauan pada sesuatu yang fana..
***
Smoga bermanfaat.:)
Esp 4 my beloved sister, mbDhun.. jazakillah khoiron jaza' telah menyongsongku di usia 23 ini. Trmksh tlh mengeluarkanku dari ruang gelap yg sempat lama kusinggahi. Kan kubiarkan luka itu mengering tanpa perlu kuobati. Hingga pada suatu masa DIA kan menitipkan solusi atas smuanya pada diri ini. dan terakhir, Ijinkan ak menyayangimu dg caraku sndiri yg mungkin masih sangat sulit kau mengerti..:)ay
4 my little brother, Gayuh.. jazakallah khoiron jaza' buat kesabaranny punya 'mbak' yg seenaknya ndiri ini. kuliah yg bener ya de.. jgn kebanyakkan syuro & melupakkan kuliah. pokoya max 4 taun!! hehe..;p. smoga mbak santi bisa terus berproses utk jadi mbak yg lbh baik lagi buat gayuh.. Luv u.. oia, hadiahnya dah kubeliin nih..:D
and 4 saudara2 seperjuanganku.. partner2 dakwahku.. smuanya.. jazakumulloh khoiron katsiir utk setiap catatan yg tertorehkan. Smua punya tempat khusus di hatiku :). Trmksh tlh mengantarkanku pada hidayah yg luarbiasa ini..
Sungguh, kalian smua adl 'anugerah terindah yg pernah kumiliki'.. ttp sebut namaku dalam robithoh kalian ya..(ngarep!)
Buat semua org2 yg mengenalku, ntah dlm wadah yg mana (IWP, Smunsasiers, Undip, Depdagers'08, Bapokers). Yang mengenalku sbg santi ataupun tejha.. Smoga ALLAH senantiasa mengekalkan ukhuwah qt karna kecintaan kepadaNYA. Terimakasih utk semuanya..
Sunday, July 26, 2009
Semoga Masih Ada Waktu Untuk KuKembali...
saat hijrah pertama kali,
mungkin akulah yg dengan bangga mengatasnamakan diri sebagai pejuang paling loyal di jalan ini
pejuang paling berani mati demi kemuliaan syahid yang dahulu masih jadi slogan hidup abadi
semua menjadi saksi saat aku paling awal hadir dalam setiap syuro pagi
setelah semalaman khusyu' isi ruh dengan suplemen hati
banyak hal yg telah kutinggalkan demi sebuah arti dari kata perjuangan hakiki
kuliah menjadi nomor sekian maisyah pun hanya menjadi selingan tak berarti
semua urusan seolah pupus demi tercapai target jama'i
namun, keikhlasan telah terlanjur menyesaki relung-relung di hati ini
sehingga apapun dilakukan apapun dikorbankan demi sentuh ridho ILLahi
sungguh, itu pun yang sedang kurindukan untuk hadir kembali
saat lisan qur'ani mencercah sendu pada sepertiga malamNYA nan sunyi
saat airmata tak terbendung menangisi kekhilafan diri
saat penyesalan atas kealpaan yg diperbuat belum mau berhenti
juga saat kutahu bahwa hati ini belumlah mati
dan yang terpenting... saat kuyakin bahwa hatiku masih mencintaiNYA tanpa terbagi...
RABBIII...
ada apa dg hati ini?
apakah memang ia sedang mati suri dan sengaja menunggu pemiliknya terbangun untuk bangkit lagi?
mungkinkah ia telah jatuh ke dalam pelukan dunia nan keji?
mengapa sampai luluh pudar hancur terbagi-bagi?
semua cintaku untukMU tak lagi murni..
kini..
cintaku sepertiga untukMU.. sepertiga untuk hartaku.. sepertiga sisanya untuk cintaku yg lain lagi..
bisakah KAU menerima pengkhianatanku ini RABBI?
bukannya aku tak sadar bahwa aku sudah menyalahi
tapi sungguh, aku dibuat larut dalam keindahan yg kuselami
entah jenis syaitan macam apa yg kuasai hati ini
yang kemudian memaksaku untuk mencintai apa seharusnya tidak kucintai
dan hatiku pun bimbang seperti hilanglah semua solusi..
dan ketakutanku pun menanti..
saat KAU minta pertanggungawbanku di suatu hari
aku tak bisa laporkan diri dengan rapor yang membanggakan hati
statusku sebagai aktivis dakwah seolah telah mati
terlindas nafsu durjana yg mematikan hati
sempurna sudah aku jatuh dan gugur di jalan ini
bukan sebagai syahid atau mujahid yg jasadnya harum mewangi
namun cukup hanyalah aku sebagai pecundang sejati...
sepertinya kumemang telah jauh dan kehilangan jati diri..
smoga masih ada waktu untuk kukembali..
(biasa nulis essai sekalinya nulis sajak kok aneh ya rasanya...?? mdh2an maxutnya tetap tsampaikan)
esp 4 someone in somewhere... bangkitlah segera dari nikmat kekhilafanmu...
mungkin akulah yg dengan bangga mengatasnamakan diri sebagai pejuang paling loyal di jalan ini
pejuang paling berani mati demi kemuliaan syahid yang dahulu masih jadi slogan hidup abadi
semua menjadi saksi saat aku paling awal hadir dalam setiap syuro pagi
setelah semalaman khusyu' isi ruh dengan suplemen hati
banyak hal yg telah kutinggalkan demi sebuah arti dari kata perjuangan hakiki
kuliah menjadi nomor sekian maisyah pun hanya menjadi selingan tak berarti
semua urusan seolah pupus demi tercapai target jama'i
namun, keikhlasan telah terlanjur menyesaki relung-relung di hati ini
sehingga apapun dilakukan apapun dikorbankan demi sentuh ridho ILLahi
sungguh, itu pun yang sedang kurindukan untuk hadir kembali
saat lisan qur'ani mencercah sendu pada sepertiga malamNYA nan sunyi
saat airmata tak terbendung menangisi kekhilafan diri
saat penyesalan atas kealpaan yg diperbuat belum mau berhenti
juga saat kutahu bahwa hati ini belumlah mati
dan yang terpenting... saat kuyakin bahwa hatiku masih mencintaiNYA tanpa terbagi...
RABBIII...
ada apa dg hati ini?
apakah memang ia sedang mati suri dan sengaja menunggu pemiliknya terbangun untuk bangkit lagi?
mungkinkah ia telah jatuh ke dalam pelukan dunia nan keji?
mengapa sampai luluh pudar hancur terbagi-bagi?
semua cintaku untukMU tak lagi murni..
kini..
cintaku sepertiga untukMU.. sepertiga untuk hartaku.. sepertiga sisanya untuk cintaku yg lain lagi..
bisakah KAU menerima pengkhianatanku ini RABBI?
bukannya aku tak sadar bahwa aku sudah menyalahi
tapi sungguh, aku dibuat larut dalam keindahan yg kuselami
entah jenis syaitan macam apa yg kuasai hati ini
yang kemudian memaksaku untuk mencintai apa seharusnya tidak kucintai
dan hatiku pun bimbang seperti hilanglah semua solusi..
dan ketakutanku pun menanti..
saat KAU minta pertanggungawbanku di suatu hari
aku tak bisa laporkan diri dengan rapor yang membanggakan hati
statusku sebagai aktivis dakwah seolah telah mati
terlindas nafsu durjana yg mematikan hati
sempurna sudah aku jatuh dan gugur di jalan ini
bukan sebagai syahid atau mujahid yg jasadnya harum mewangi
namun cukup hanyalah aku sebagai pecundang sejati...
sepertinya kumemang telah jauh dan kehilangan jati diri..
smoga masih ada waktu untuk kukembali..
(biasa nulis essai sekalinya nulis sajak kok aneh ya rasanya...?? mdh2an maxutnya tetap tsampaikan)
esp 4 someone in somewhere... bangkitlah segera dari nikmat kekhilafanmu...
Sunday, July 19, 2009
Mari berdamai dengan Hati Kita Saat Patah Hati
Lagi-lagi masalah hati lagi... Jujur, Saya juga bosan memakai (lagi2) tema tentang hati. Tapi, Saya ingin menepati janji pada seorang sahabat lama dg menulis tentang ini... (ehm, dah ada yg mau request tema ni..)
Seringkali kita merasa bahwa kita adalah objek penderita yg paling sengsara di dunia saat hati kita terluka. Rasanya semua ingin kita enyahkan dari hadapan kita. mood menjdi hancur berhari-hari.. kerjaan berantakan.. interaksi dg sesama pun terkesan semrawut begitu saja. Padahal sakit atau tidaknya hati kita sedikit banyak bergantung pada persepsi kita saat mengenali hati kita sendiri. Masalahnya sekarang adalah, banyak orang dewasa yg ternyata belum mengenali hatinya 100% sehingga formulasi hatinya saat kacau balau pun menjadi kurang tepat.
Berbicara masalah patah hati memang tidak ada ujungnya. kalau tidak mengiba ya mengumpat. hanya itu yg bisa dilakukan oleh org2 yg sedang patah hati. apalagi ketika hati kita sudah berkonsensus utk mncintai seseorg dan org yg kita cinta itu tiba2 lenyap tanpa jejak, rasanya pasti luar biasa sakit (agak sotoy ni..). Dan itu pulalah yg saat ini harus disiapkan.
Saat kita sudah menyatakan diri siap utk mencintai seseorg (dg ataupun tanpa komitmen), secara otomatis kita pun sudah siap menerima resiko utk siap pula pd kekecewaan yg mengikutinya. Krna mencintai manusia yg tak sempurna dg cinta kita yang jg tak sempurna hanyalah berujung pada kekecewaan. Jujur, marilah kita tanyakn diri kita masing2, sesungguhnya apa yg bisa diharapkan dari mencintai seorang anak manusia tanpa kerangka cinta yg jelas? tidak ada bukan? Seandainya anda menjawab ada pun itu hanya sebatas euforia dan lips service belaka.
Hanya ada satu kerangka untuk melegalkan ketidaksempurnaan cinta manusia, yakni dengan membalutnya bersama kesempurnaan cintaNYA. dan cintaNya akan bisa hadir jika Ia ridho terhadap ketidaksempurnaan cinta manusia itu (duh..knapa kalimatnya jadi ribet begini?). Saya yakin teman2 juga faham apa yang Saya maksudkan. Cuma terkadang kita selalu menghindar dari tema itu dg alasan yg seolah-olah didominasi oleh kecemasan kita sendiri. Cemas mental, cemas finansial, dan cemas2 yg lainnya.
Kembali lagi pada patah hati...
Manusia dewasa yg mengenal TuhanNYa akan selalu mempunyai cara tersendiri dalam menata hatinya. saat sedang bahagia ataupun patah. sedang kuat ataupun lemah.. semua punya pasti ada formulanya. Ditinggalkan orang terkasih tanpa pesan (haduh, dah mulai berat nih bahasanya) memang sangat mempengaruhi keseharian dan kebiasaan kita. Tapi, mungkin akan lebih indah jika keterjauhan kita dari org yg terkasih itu justru dapat memiliki andil dalam mendekatkan kita kepada Yang Maha Kasih. Karena, saat kita mendeklarasikan diri bahwa kita mengasihi seseorg, (menurut saya) itu lebih kpd justifikasi pribadi kita terhadap hati kita sendiri. Padahal, bukankah lebih indah jika Allahlah yg menjustifikasi hati kita untuk mengasihi org yg Ia pilihkan utk kita daripada mencari sendiri? (knpa jadi muter2 gini kata2nya..:-?)
Percayalah sobat (esp 4 someone), saat Allah mengambilnya dari sisimu, Allah telah mempersiapkan pengganti yg jauh lebih layak utkmu. Apalagi jika semua sudah kau maksudkan untuk menyempurnakan setengah dienmu... Ia hanya sedang menguji kesiapanmu utk itu. selesai ujian yg satu akan datang ujian yg lain lagi sampai pada akhirnya kau menyandang gelar kepantasan utk menikah. Allahu'alam bishowab
dan semua kan menjadi indah pada waktunya... janjiNya tidak pernah salah, camkan itu...:)
(sempet nulis lagi akhirnya,,prajab bener2 mematikan potensi. gara2 nulis resume mulu jadi ga pernah nulis yg beginian deh..)
Seringkali kita merasa bahwa kita adalah objek penderita yg paling sengsara di dunia saat hati kita terluka. Rasanya semua ingin kita enyahkan dari hadapan kita. mood menjdi hancur berhari-hari.. kerjaan berantakan.. interaksi dg sesama pun terkesan semrawut begitu saja. Padahal sakit atau tidaknya hati kita sedikit banyak bergantung pada persepsi kita saat mengenali hati kita sendiri. Masalahnya sekarang adalah, banyak orang dewasa yg ternyata belum mengenali hatinya 100% sehingga formulasi hatinya saat kacau balau pun menjadi kurang tepat.
Berbicara masalah patah hati memang tidak ada ujungnya. kalau tidak mengiba ya mengumpat. hanya itu yg bisa dilakukan oleh org2 yg sedang patah hati. apalagi ketika hati kita sudah berkonsensus utk mncintai seseorg dan org yg kita cinta itu tiba2 lenyap tanpa jejak, rasanya pasti luar biasa sakit (agak sotoy ni..). Dan itu pulalah yg saat ini harus disiapkan.
Saat kita sudah menyatakan diri siap utk mencintai seseorg (dg ataupun tanpa komitmen), secara otomatis kita pun sudah siap menerima resiko utk siap pula pd kekecewaan yg mengikutinya. Krna mencintai manusia yg tak sempurna dg cinta kita yang jg tak sempurna hanyalah berujung pada kekecewaan. Jujur, marilah kita tanyakn diri kita masing2, sesungguhnya apa yg bisa diharapkan dari mencintai seorang anak manusia tanpa kerangka cinta yg jelas? tidak ada bukan? Seandainya anda menjawab ada pun itu hanya sebatas euforia dan lips service belaka.
Hanya ada satu kerangka untuk melegalkan ketidaksempurnaan cinta manusia, yakni dengan membalutnya bersama kesempurnaan cintaNYA. dan cintaNya akan bisa hadir jika Ia ridho terhadap ketidaksempurnaan cinta manusia itu (duh..knapa kalimatnya jadi ribet begini?). Saya yakin teman2 juga faham apa yang Saya maksudkan. Cuma terkadang kita selalu menghindar dari tema itu dg alasan yg seolah-olah didominasi oleh kecemasan kita sendiri. Cemas mental, cemas finansial, dan cemas2 yg lainnya.
Kembali lagi pada patah hati...
Manusia dewasa yg mengenal TuhanNYa akan selalu mempunyai cara tersendiri dalam menata hatinya. saat sedang bahagia ataupun patah. sedang kuat ataupun lemah.. semua punya pasti ada formulanya. Ditinggalkan orang terkasih tanpa pesan (haduh, dah mulai berat nih bahasanya) memang sangat mempengaruhi keseharian dan kebiasaan kita. Tapi, mungkin akan lebih indah jika keterjauhan kita dari org yg terkasih itu justru dapat memiliki andil dalam mendekatkan kita kepada Yang Maha Kasih. Karena, saat kita mendeklarasikan diri bahwa kita mengasihi seseorg, (menurut saya) itu lebih kpd justifikasi pribadi kita terhadap hati kita sendiri. Padahal, bukankah lebih indah jika Allahlah yg menjustifikasi hati kita untuk mengasihi org yg Ia pilihkan utk kita daripada mencari sendiri? (knpa jadi muter2 gini kata2nya..:-?)
Percayalah sobat (esp 4 someone), saat Allah mengambilnya dari sisimu, Allah telah mempersiapkan pengganti yg jauh lebih layak utkmu. Apalagi jika semua sudah kau maksudkan untuk menyempurnakan setengah dienmu... Ia hanya sedang menguji kesiapanmu utk itu. selesai ujian yg satu akan datang ujian yg lain lagi sampai pada akhirnya kau menyandang gelar kepantasan utk menikah. Allahu'alam bishowab
dan semua kan menjadi indah pada waktunya... janjiNya tidak pernah salah, camkan itu...:)
(sempet nulis lagi akhirnya,,prajab bener2 mematikan potensi. gara2 nulis resume mulu jadi ga pernah nulis yg beginian deh..)
Subscribe to:
Posts (Atom)