Saturday, October 3, 2009

Ketika Senyum...

Ketika Senyum ini dapat menyembunyikan segalanya
Di antara ruang bahagia yang semakin lama semakin sempit
Maka keindahan itu semakin lama kan enggan memunculkan diri ke permukaan
Dalam raut pucat pasi setia menunggu ajal menghampiri

Ketika Senyum ini dapat menjadi penawar kegetiran
Meski hancur tercabik tangan-tangan pembunuh berdarah dingin
Maka semua akan terlihat baik-baik saja
dan samar pada kepedihannya

Akankah senyum hanya bernilai semurah itu?
Paling tidak untuk kali ini ya..
Saat bersahabat dengan keletihan dalam tidur panjang ini.. IRONIS!

Sunday, September 27, 2009

Apakah Ada Bedanya... (Pinjam Judulnya Kang Ebiet G Ade)


Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang?
Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku

Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka



Ada yang bisa menafsirkan lirik lagu di atas?
Lagu gubahan salah satu penyanyi sekaligus komposer favorit Saya itu selalu menyerahkan sendiri kepada penikmat musiknya untuk menafsirkannya. Yang punya kekasih menafsirkan lagu itu kepada orang terkasihnya. Yang tidak, mungkin untuk keluarganya. Atau... ya setidaknya ada unsur kebebasan dalam menafsirkannya. Bolehlah...

Seseorang (yang masih family dekat) pernah share terkait kisah kasihnya di masa lalu. Singkat cerita, laki-laki yang menikahinya sekarang bukanlah laki-laki yang dicintainya, meskipun laki-laki itu mencintainya. Satu-satunya alasan dia menikah adalah orang tuanya yang sudah sangat mendesaknya untuk menikah. Dan petuah lama.."lebih baik dicintai org yang tidak kita cintai daripada mencintai org yang tidak mencintai kita.."

Mungkin memang petuah lama itu tidak sepenuhnya salah. Tapi Saya pun tidak bisa menganggap itu benar seratus persen. Tapi lihat saja efek psikologis pada wanitanya. Memang sampai saat ini keluarga mereka (sampai dikaruniai sepasang putra putri yang manis2) masih baik2 saja. Hanya saja, terakhir sempat tercetus dari mulutnya bahwa dalam 13 tahun usia pernikahannya pun ia masih belum bisa mencintai suaminya seperti ia mencintai seseorang dalam masa lalunya. Namun suaminya memang tidak pernah menyadari itu karna sebagai istri ia tetap saja berbakti dan berusaha menjalankan peran dengan sangat baik bagi suami dan anak2nya. Luar biasa..

Beberapa tahun lalu ia memang sempat mendengar kabar mantan kekasihnya itu telah menikah dan memiliki seorang putra. Namun, belakangan terdengar pula bahwa laki-laki itu kini telah bercerai dengan istrinya. Sungguh, kabar perceraian itu sempat menjadi kebahagiaan yang menyeruak di dalam hatinya. Kabar-kabar seputar statusnya yang baru pun menjadi berita yang selalu dikejarnya. Sampai pada suatu ketika Suaminya mendapati masalah serius di instansi tempatnya bekerja. Sebagai pejabat lokal, beliau telah menjadi korban kejahatan politik dari lawan-lawan politiknya. Dan peristiwa demi peristiwa yang terjadi telah menuntutnya untuk mendampingi suaminya secara lebih all out lagi. Dan pada saat itu Allah telah melalaikannya untuk mengingat-ingat perceraian mantan kekasihnya itu. Pada saat yang hampir bersamaan, putra pertamanya tiba-tiba menderita sakit 'aneh' yang lumayan menyita perhatian. Suhu badannya sangat tinggi dan sering mengigau 'kakak mau mati ma... kakak bentar lagi mati ma..". Akhirnya belakangan diketahui bahwa penyakit si sulung akibat 'buatan' dukun sewaan salah satu lawan politik suaminya tersebut. Kompleks!

Pada awalnya ia sempat berfikir dan mencerna maksud Allah 'mengajaknya bermain' dengan semua kejadian yang menimpanya. Namun, perlahan disadari mungkin hanya dengan cara itulah Allah dapat membuatnya melupakan mantan kekasih yang belakangan justru menjadi fokus pencariannya. Untung saja tak butuh waktu lama untuk menyadarinya...

Dalam hati kecilnya kini ia sangat berharap Allah tidak kan mempertemukan ia dengan laki-laki dalam masa lalunya itu karna pada akhirnya ia pun menyadari bahwa apa yang ada di hadapannya saat ini adalah realita hidup yang Allah gariskan padanya. Dan tentu saja itu yang terbaik. Dan ada saat yang slalu ia nantikan sampai kapanpun.. yakni saat ia bisa benar-benar jatuh cinta pada suaminya.. Dan semoga Allah menyegerakan itu

Kembali lagi pada lirik lagu di atas (yang merupakan lagu kesukaannya juga)..
Kadang kita terlalu banyak menuntut apa yang menjadi kemauan kita. Kita terlalu banyak meminta apa yang menurut kita itu paling bisa membuat kita bahagia. Namun, seringkali 'jatah' yang kita terima dariNya jauh dari tuntutan dan harapan kita
Lantas..
Apakah ada bedanya jika kita masih tidak terima dengan apa yang telah ditetapkannya?
Tidak bukan? Yang ada, malah mungkin ketidakterimaan kita yang akan terus menghantui kita dengan perasaan-perasaan sakit dan pedih. So, ikhlas itu kuncinya...

Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli



(Mungkin aku memang tdk sekuat njenengan mba... Dalam jarak ribuan mil, InsyaALLAH do'aku ada untukmu)

Thursday, September 24, 2009

Ternyata Hanya Sebatas Justifikasi Kultural...

Ikhwah, mari kita sejenak berfikir telah berapa kali kita menjustifikasi ke-qowiy-an dan ke-haroky-an saudara-saudara sekitar kita dg parameter-parameter dangkal yang hanya punya satu sudut pandang yang sempit? Saya menulis ini sambil mengingat-ingat berapa banyak nama yang telah Saya perlakukan seperti itu dahulu. Mungkin memang pada awalnya kita melakukan pembahasan akan nama2 ikhwah dalam hadonah kita demi penyusunan renstra dakwah juga ke depannya. Tapi makin lama makin dipikir.. kok ya kebangetan banget kalo kita membahas itu terlampau jauh dan sampai kemana-mana. Toh, tidak ada yang menjamin bahwa kita benar2 lebih baik dari bahasan-bahasan kita tersebut. Hanya saja, amanah kita saja yang mungkin cukup membuat kita 'bergigi' di antara ikhwah-ikhwah lain tersebut.

Pernah ada seorang kenalan Saya (partner dalam amanah khos) di suatu wilayah (masih di tembalang juga) menjustifikasi salah seorang adik kelas kuliah yang tinggal di wismanya tidak qowiy karena masih sering mendengarkan musik-musik selain nasyid. Ada juga seorang senior yang mendapat justifikasi tidak qowiy karena masih sering baca komik atau kebanyakan nonton tv. Dan mengapa hal-hal demikian dapat menjadi parameter penentu keqowiyan seseorang, jelas itu adalah suatu hal yang mengkultur dan membudaya dalam kehidupan keseharian ikhwan-akhwat di lingkungan kampus.

Ada lagi dalam interaksi ikhwan akhwat misalnya, ada akhwat 'pemula'(belum lama liqo') yang sempat deg-degan dipanggil MRnya karena ketahuan mudik bareng seorang ikhwan 'pemula' juga karena belum berani mudik sendirian. Si akhwat pemula tadi sampai menangis dan dibuat merasa bersalah tiada henti-hentinya. Hebat!
Ada lagi yang sampai 'cuti' dari halaqoh sampai satu bulan lamanya karena sindiran keras dari Sang MR akibat kemalaman pulang ke wisma (kos binaan) melebihi batas jam malam (pada saat itu jam 20.30 WIB). Atau saat kepergok sms-an dengan seorang ikhwan lewat dari jam 21.00 WIB. Pokoknya luar biasa!

Asholah ditegakkan tanpa toleransi yang berlebihan. Mungkin ini pula yang membuat kader kampus selalu lebih berkualitas dari kader kantor atau kader kampung/ kota (meski mereka pun mungkin pernah menjadi kader kampus). Permasalahannya sekarang, bisakah kita menjustifikasi bahwa orang yang mempunyai toleransi berlebihan itu kader yang tidak qowiy???

Sepertinya tidak arif jika kita langsung beranggapan demikian. Setiap kader layaknya manusia biasa yang memiliki background berbeda. Seorang pecandu komik perlu waktu sampai belasan tahun untuk kemudian mencandunya dan menjadikannya sebuah kebiasaan. Demikian juga penikmat musik-musik selain nasyid. Bukan waktu yang singkat bagi seseorang untuk dapat menjadi penggemar seorang Steven Tyler atau mendapatkan inspirasi dari seorang John Mayer. Lantas, mengapa kita tak bisa bijak membiarkan kader-kader tersebut berproses dengan caranya sendiri yang mungkin lebih membuatnya nyaman daripada dengan sindiran-sindiran yang tajam?

Mungkin naluri manusia kita sangat ingin mengakselerasi pertumbuhan kader dengan cara-cara klasik seperti itu. Tapi ingat wahai ikhwah.. yang kita hadapi adalah manusia. Bukan wayang ataupun robot. Manusia punya hawa nafsu yang tidak selalu bisa dikendalikan. Manusia juga punya hasrat. Dan yang pasti manusia butuh eksistensi di hadapan manusia lainnya. Jika kita langsung mengebiri apa yang telah menjadi kesenangannya setelah sekian lama dengan cara yang sama sekali tidak elegan, bukankah itu akan merusak perasaan dan harmonisasi hidupnya dengan mendadak meskipun alasan kita demi tegaknya asholah dakwah?

Sekali lagi, ini hanya masalah kultur. Dan untuk membentuk kultur itu perlu waktu lama. Saya tidak mengatakan komik, televisi, ataupun musik-musik selain nasyid itu baik. Hanya saja, seseorang yang tidak suka komik, tidak suka nonton televisi, dan tidak suka musik-musik selain nasyid, yang masih menjustifikasi saudaranya sesama ikhwah itu buruk dengan semua kebiasaannya pun tidak bisa dikatakan baik. Karena seandainya ia tidak bermasalah pada poin-poin lemah itu pun, pastilah ia telah bermasalah pada kedewasaan hatinya yang sukar menghargai proses pencapaian hidayah yang sedang dilalui saudaranya. Allahu'alam bishowab.

Tuesday, September 15, 2009

Karena cintaNya tak pernah salah...

Lima tahun lalu, ketika Aku belum sedewasa ini..
Aku mendapat ujian yang cukup berat, Aku selalu merasa menjadi makhluk paling nelangsa di muka bumi ini. Dan Aku pun selalu merasa menjadi korban kekejaman orang-orang di sekitarku. Bagaimana tidak, Aku selalu merasakan kepalaku sakit akibat depresi yang seolah lekat dengan keseharianku. Kekhawatiran akan hidupku esok dan selanjutnya menjadi beban yang kurasa sangat berat sehingga Aku pun merasa kepayahan memikirkannya. Hidupku menjadi suram dan wajahku pun pucat pasi dibuatnya.

Cukup sulit memang ketika ujian itu datang dan kita harus berhusnudzon billah di saat terjepit oleh keadaan. Yang ada kita terus mempermasalahkan takdir yang seharusnya tinggal kita nikmati dan terima saja. Karena memang itu standar baku Allah dalam memporsikan kita dalam cintaNya. Namun, sepertinya pada saat itu hatiku sudah tertutup payung duka yang mendalam hingga sulit menerima cintaNya dengan cara yang (menurutku) saat itu sungguh menyakitkan. Menjadi manusia super melankolis dengan perasaan sebagai objek penderita pun tak bisa dihindarkan.

Allah memang punya cara yang terlalu sempurna dalam mencintai hambaNya. Ia mendewasakanku dalam proses panjang tiada henti hanya untuk pencapaian kata 'tegar' dalam hidupku. Ia pun mentarbiyahku dengan rasa sakit yang luar biasa hanya untuk mengajariku sebuah kata sederhana yang sampai kini mungkin masih sulit kupahami, 'ikhlas'. Ia meletakanku dalam kesendirian yang panjang demi sebuah kemandirian. Dan pada akhirnya Ia memilihku untuk terjebak dalam persimpangan yang membingungkan untuk memahamkanku arti penting petunjukNya.

Jujur, untuk memahami cinta ini Aku butuh waktu yang sangat lama. Aku terlalu larut dalam perasaanku yang akhirnya membuatku kesulitan bersyukur. Bahkan, terkadang hingga kini, Aku masih bingung dalam memahami bahasa-bahasa cintaNya. Namun yang pasti, pada saat ini Aku sudah cukup merasakan betapa besar cintaNya yang sampai pada kehidupanku dan telah mengubah semuanya.

Karena cintaNyalah yang menjadikanku kuat dan optimis
Karena cintaNyalah Aku dapat turut serta dalam barisan dakwah ini
Karena cintaNyalah Aku yakin bahwa setiap orang berhak untuk bahagia
dan Karena cintaNyalah Aku tidak lagi merasa kurang

Karena cintaNya... memang tak pernah salah.


(Ditulis saat Aku merasa benar-benar mencintaiNya, 26 Ramadhan 1430 H)

Monday, September 14, 2009

untitled


Sahabat,
Sadarkah pada saat ini ada yang lain pada dirimu?
Mengertikah ada yang tidak lazim dari hatimu?
Bagaimana dengan kondisi hati dan imanmu pula?
Baik-baik sajakah ia?
Atau justru ia sedang terjerembab lelah?



Sahabat,
Karakteristik hati memang demikian
Ia akan senang dimanjakan dan dipenuhi kebutuhannya
Dengan cara apapun dan metode yg bagaimanapun
Terlepas dari Tuhanmu senang ataupun tidak dengan cara itu
Karena hati bukanlah makhluk berakal yang dapat berbuat sesuai mau Tuhannya
Hati hanya dapat bertindak sesuai dengan parameter bahagianya
Ya.. karena hati hanya tahu kata bahagia atau sakit
Senang atau terluka..

Sahabat,
Untuk bahagianya hati selalu punya banyak cara
Untuk terluka pun hati punya banyak jalan
Dan pilihan kitalah sebagai yang punya hati
Untuk kemudian menunjuk jalan terbaik bagi hati kita
Agar hati dapat bahagia dan terluka tanpa membuat Tuhan menjadi murka

Dalam hidup, mungkin saja hati kita terpeleset dalam lingkungan yang melenakan
Tidak hanya satu atau dua waktu
Karena syaitan slalu ingin masuk ke dalam hati kita berkedok nafsu durjana
Hingga akhirnya nafsu yang menuntun hati kita dalam merasakan
Hingga perlahan sakit lalu mati

Sahabat,
Sungguh dalam hati kecilku Aku sangat ingin menghentikanmu dari khilafmu ini
Aku ingin menarikmu agar tidak terjerumus terlalu dalam
Aku ingin terus mendampingi dalam kesakitan hatimu kini
Aku pun tak ingin kematian hati itu kan melandamu suatu saat nanti

Namun kutahu itu sangat sulit untuk kuperbuat
Hatimu adalah daerah kekuasaanmu
Dan hanya kau yang dapat menguasainya
Pilihanmu untuk menentukan apa yang seharusnya menguasainya
Dan Aku??
Sampai saat ini hanya mampu berharap
Berdoa tanpa putus
Agar Tuhanmu mengembalikan hatimu dengan segala bahagia dan lukamu
Yang dulu pernah ada
Sesaat sebelum kau matikan saat bertemu denganku..