Monday, January 3, 2011

Menjadi Makhluk Mayoritas

Nikmatnya menjadi makhluk mayoritas..
Mudah memulai pembahasan dengan kasus perselingkuhan dan perceraian
Tak begitu sulit mencari kambing hitam saat menjadi terdakwa atas tuduhan yang memang benar-benar dilakukan
Mudah mendendam, mudah melabrak, mudah mengghibah...

Begitukah saya?

Membalas setiap perbuatan orang lain yang tidak Saya inginkan terhadap Saya
Menjadi motor penggerak menjelek-jelekkan tetangga baru yang berkostum keArab-Araban seperti teroris
Mencibir pada ustadz kampung sebelah yang mencoba beristri lebih dari satu
Memandang sinis pada orang-orang yang memusuhi Saya...
Mungkin Itu adalah Saya

Yang hormat setengah mati pada manusia bertitel atasan
Yang merunduk serendah-rendahnya pada para pejabat bermental minus
Yang rela berjejal-jejal di dalam stadion saat adzan magrib berkumandang
Yang teramat cerdas mengeksposisi kehidupan pribadi orang lain lalu berpendapat selayaknya seorang ahli
Nikmatnya...
Menjadi seseorang seperti banyaknya orang-orang kebanyakan
Menjadi pribadi mayoritas seperti mayoritas orang-orang
Tak pernah kehabisan ide untuk berbicara, namun selalu kesulitan saat bermawas
Dan semoga Saya tidak mati dalam keadaan masih menjadi makhluk mayoritas.....


karna surgaNya terlalu sempit untuk dimasuki mayoritas manusia di muka bumi ini..

Allahu'alam bishowab

Sunday, January 2, 2011

Mari Kita Bertemu pada Ujung Jalan Ini

Betulkan, penantian itu akan menghasilkan sesuatu yang dinanti?
Benar juga kan bahwa memang tidak ada upaya sia-sia yang tidak menghasilkan?

Masihkah kamu memungkirinya... padahal waktu ini pun kamu sedang bersiap untuk menikmati segalanya dengan senyuman paling manis yang kamu punya


So many years gone, still I remember
How did I ever let my heart believe
In one who never gave enough to me
(David Foster - The Best Of Me)


Percaya tidak, Saya pun dulu begitu.. Seperti kamu!
Selalu menganggap penantian itu membosankan dan semua upaya akan berbuah kenihilan
Sampai pada suatu saat Dia menegurku dengan cara yang sangat halus.. sangat lembut.. dan sangat menyentuh
Bukankah memang Tuhan sering mengulur pemberian itu menjadi sangat lama untuk melihat kesungguhan kita dalam mengejar pemberian itu? Karena memang pemberian itu terlalu berharga untuk diberikan kepada orang tak berkemauan... seperti kamu dahulu, dan mereka yang tak bersikeras terhadap impian-impiannya..

Beruntungnya kamu lekas tergugah.. bahwa kamu sama berharganya dengan semua impian-impianmu
Bahwa kamu memang sama indahnya dengan imajinasimu tentang masa depanmu
****

Baik, sekarang mari kita tutup semua lembaran itu dan bersiaplah membuka lembaran baru dari setiap episode hidup
Terlalu lama terjebak dalam kubangan masa lalu tidak akan membuat diri menjadi lebih baik
Mengapa tidak kita mencoba berdiri dan berlari mencari-cari pemberian Tuhan yang lain?
Karena, setiap hembusan nafas, selalu ada pemberian.. Setiap asa yang terlahir, adalah bentuk pemberian..
Karena hidup kita tak ubahnya adalah genangan pemberian Tuhan yang mengalir pada setiap hari dan bulan untuk menggenapkan usia kita



 Dengan apa yang kita miliki, dan dengan jalan yang telah kita pilih...
Mari imajinasikan impian kita dan kita temukan keberhargaan diri kita pada kenyataan esok hari, di ujung jalan ini...

You changed my life in a moment
And I'll never be the same again
You changed my life in a moment
And it's hard for me to understand
With the touch of your hand in a moment in time
All my sorrow is gone
(Sarah Geronimo - You Changed My Life In A Moment)

Friday, December 31, 2010

Hari Ini, Esok, dan Esoknya Lagi

 Hari ini...
Sepenuh hatiku bersyukur atas perkenaanNya dalam naunganNya mencari diri di setiap bilangan usia. Atas semua harapan yang telah membuncah dalam fajar yang semakin merekah ke permukaan. Alhamdulillaah...

Esok...
Di mana rahasiaNya akan kembali tersibak secara perlahan. Nyaris berbarengan dengan desis syukur di bibir ini.. yang semoga tak pernah kelu untuk itu, selalu.

Esoknya Lagi...
Pada semua ketidakpastian itu kemudian menjadi pasti dan layak untuk diyakini. Bersama orang-orang terkasih merajut sulaman hidup yang tak kan pernah terputus. Untuk diri ini dan diri yang lain lagi. Karna memang tak selamanya kita hidup untuk diri dan hati kita sendiri saja.


Sungguh luar biasa sekali ini, Tuhan... Pada setiap kesempatan yang Kau berikan, detakannya selalu sama. Getarannya selalu mirip. Hembusannya tak pernah berkurang. Terima kasih untuk nikmat yang tak kunjung putus. Semoga selalu seperti ini. Dan Aku tak pernah kehilangan cara untuk bersyukur... Karna nikmatMu selalu berwujud indah dan menentramkan....

Tuesday, October 5, 2010

Ini namanya Rindu, Benarkah Demikian...?

Bahagianya...
Kembali ke tanah basah tempat kaki-kaki kecilku pernah mencetak tapaknya pada memori yang sudah lewat
Riang sekali... Menghitung lumut yang terserak pada dinding-dinding batu yang telah usang
Menghabiskan masa kecil tanpa sisa senang yang terlewatkan
Hingga pada suatu sore Aku melihatmu, yang menginspirasi hidupku sebelum masa dewasaku hadir
 

Sebetulnya Aku tidak ingin kembali lagi ke sini
Karena hanya akan mengembalikan getaran adrenalinku saat membayangkan manisnya perhatianmu dulu
Saat dulu.. Kanak-kanak kita menghabiskan sore bersama
Denganmu dan yang lain juga...

Melihat ujung hijau beradu harmoni dengan birunya langit fajar
Seolah Aku hendak kembali mengetuk pintu rumahmu
Untuk kemudian membiarkan hatiku jatuh cinta lagi
Bermain cinta monyet seperti belasan tahun yang lalu... Bersamamu...


Sayangnya...
Maksud kedatanganku kali ini bukan untuk itu
Bukan, sama sekali bukan untuk itu
Karena, bagaimanapun Aku sadar bahwa semua sudah berbeda
Kita terpisah terlalu lama melewati ribuan petang yang semakin sirna
Rasa yang dulu sempat meramaikan masa kecil kita pun sudah terhapus oleh maraknya cita-cita yang menyesaki impian kita..

Saat kumelihatmu dalam balutan kedewasaan...
Ada yang masih mendesir di sini, dalam hati kecil ini..
Bahwa ternyata kau sudah tumbuh dengan amat baiknya melewati masa kritis remajamu
Kau hebat tapi semua sudah lewat
Tapi Aku yakin Aku bukannya pulang terlambat.... Bukannya pulang terlambat...

Begitulah skenarioNya..
Yang mempertemukan dan memisahkan kita untuk tujuan mulia
Maka, ijinkanlah Aku melihatmu lagi sekarang, sesaat sebelum janji suci itu kau lafalkan, untuknya...

Kamu...

Kamu... Ya Kamu!
Bisakah kamu berhenti mengeluh dan memulai untuk bersyukur?
Saya hanya ingin mendengar ungkapan kebahagiaanmu yang dulu sering kamu lantunkan.
Saat ayahmu membelikan hadiah termanis saat kelulusanmu
Atau ketika ibumu merestui hubunganmu dengan calon pendamping hidupmu...

Kamu... Ya betul, itu kamu!
Yang dulu selalu tidak punya alasan untuk menangis dan bersedih.
Bahkan dulu kamu sempat kuanggap sebagai makhluk Tuhan paling tegar yang pernah Dia ciptakan.
Banyak sekali polahmu yang kuamati dalam diamku.
Karena Aku benar-benar kagum atas segala keceriaanmu!

Kamu...
Yang selalu menguasai ranah kekagumanku, yang menjelajah penuh arah ambisiku..
Karena Aku ingin seperti kamu. Ingin seperti kamu!
Sosok manusia yang selalu punya ruang pribadi di sepertiga malammu..
Yang selalu mampu menciptakan keintiman luar biasa saat merayu Tuhan..




Kamu...
Apakah Kamu memang sedang kehilangan dirimu untuk saat ini?
Di kala Aku sering mendapati sajadah tak bertuan lagi saat malam hampir habis.
Atau lipatan mushaf yang belum juga beralih halaman dari minggu ke minggunya.

Kamu.. Kenapa?
Aku rindu Kamu yang dulu!