Tuesday, September 8, 2009

Aku Hanya Ingin Menyampaikannya pada Hatimu..

Belakangan ini, beberapa teman mengeluarkan comment yg cukup membuatku tersenyum sendiri perihal tulisanku. Mulai dari teman yg mengenalku, setengah mengenalku, sedikit mengenal, atau hanya pernah tahu aku, bahkan sampai teman yg jangankan kenal, ketemu langsung saja kita belum pernah. Muatan comment-nya pun bermacam-macam. Ada yg sarat akan kekaguman sampai sarat akan perasaan tidak terima (kesindir maksudnya).. Semua ada! Kadang ku pun berfikir, jika ada satu options lain selain 'comment' dan 'like', yakni 'unlike'.. Kuyakin pasti kan ada yg mengkliknya sehingga di notesku kan ada tulisan: Some people unlike it..:)


Sebetulnya hal yg demikian adalah hal yg sangat wajar mengingat seringnya terjadi kerusakan koneksi pada jaringan (lho..??!). Maksud Saya.. kadang data yg kita kirimkan dapat saja mengalami error pd saat transmisinya sehingga data yg diterima tdk sesuai dgn yg dikirimkan. Inilah yg biasa kita namakan error. Agar data yg diterima sama dengan data pd saat pengiriman, maka kita butuh kode2 pengoreksi error di sini..(hm, kalo bukan org matematik or TI dijamin bingung, ini kan materi skripsi Saya).

Insya ALLAH akan Saya lanjutkan dg bahasa yg lebih umum.. :)

Teman2 yg sdh mengenal Saya sebetulnya dg sendirinya akan memahami mengapa Saya suka sekali menulis spt ini. Bahasa tulisan Saya pun tdk akan jauh berbeda dg bahasa lisan Saya. Sama2 lugas dan 'langsung tembak'. Above all, tdk ada maksud apapun di situ selain apa yg tercantum di situ. Saya hanya ingin berbicara dg hati teman2 yg membaca karna hanya media ini yg bisa membuat kita berkomunikasi (minimal utk waktu ini). Dan itulah memang tujuan dibuatnya beragam notes yg belakangan jadi sering memenuhi wall teman2 (spt skrg..). Afwan jiddan.

Banyak manusia modern yg hidup di zaman ini sering berbicara atas nama kebenaran. Bisa jadi memang kebenaran sungguhan atau mungkin justru hanya sebatas pembenaran atas suatu hal yg belum jelas benar jika itu benar. Banyak pula yg menganggap kebenaran itu adalah suatu hal yg nisbi. Berangkat dari situ pulalah akan muncul banyak sekali opini yg akhirnya meruncing ke arah perdebatan (yg tdk perlu). Berapa banyak manusia yg sering 'pakai urat' dalam menyampaikan kebenaran versinya? Berapa banyak pula manusia yg (juga) 'pakai urat' dalam membenarkan opininya? Seperti itulah kita (termasuk Saya di dalamya) pada masa sekarang ini. Menggunakan tema kebenaran utk menyalahkan opini org lain. Tanpa dasar yg kuat pula.

Idealnya, ketika kita membenarkan atau menyalahkan org lain, kita harus dapat mengeluarkan 'dalil' sbg referensi. Ini ada di surat apa ayat sekian. Atau ini menurut buku karya si Fulan halaman sekian. Bukan berdasar atas rasa pribadi yg kemudian berujung pada konklusi pribadi dan sedikit dibumbui ego yg masih menggantung tinggi. Kalo muatan opini kita dalam membenarkan atau menyalahkan masih seperti itu, maka selamanya apa yg kita bicarakan hanya berhenti pada tahap pepesan kosong belaka. Sama sekali tdk berbobot. Bisa dibayangkan jika ada dua org yg sama2 merasa dirinya benar, dan kemudian mempertahankan kebenaran dengan caranya yg sama sekali tdk cantik itu. Dapat dibayangkan bukan akhirnya seperti apa? Itu jika hanya dua org.. dan Saya sgt yakin jumlah manusia2 spt itu sangatlah banyak di muka bumi ini.

Mental2 seperti itu adalah mental anak2 yg sama sekali belum dewasa. Mental menyalahkan dan mental pembenaran. Menyalahkan org lain jika terpojok dan mengadakan pembenaran2 opini untuk keluar dari keterpojokkan tersebut. Ketika ada suatu keberhasilan yg diraih, maka semua berlomba2 mengklaim keberhasilan tersebut adalah hasil jerih payahnya. Namun manakala ada suatu kesalahan yg terjadi, maka yang ada malah saling melempar bola utk menentukan promotor utama dalam kesalahan tersebut. Saya menulis seperti ini bukannya karna Saya tdk pernah mengalami ini lho..

Mental lain yg (mgkn) masih istiqomah di dalam diri manusia modern adalah mental pecundang, yakni selalu merasa menjadi korban org lain. Ketika sdg ditimpa kesulitan hidup, org tsb dg mudahnya menyalahkan org lain sebagai penyebab kesulitannya. Tipikal org2 jenis ini sangat sulit sekali sadar bahwa ALLAH menyayanginya. Akibatnya, ia menjadi sdkt sekali (bahkan mgkn tdk sama sekali) utk bersyukur pdNY. Muhasabah pun menjadi hal yg paling sulit dilakukan kalau sudah spt ini.

Bagaimana dg teman2?
Saya pun berkali-kali bertanya pada diri Saya sendiri kpn bisa 100% melepaskan diri dari jeratan2 mental seperti ini. Mental menyalahkan, mental pembenaran, dan mental pecundang. ketiga mental yg masih menjerat kaki Saya utk melangkah maju dan selalu menarik mundur langkah Saya ke belakang. Marilah kita bersama-sama mereformasi mental negeri ini dimulai dari yg terdekat, yakni dari mental diri kita masing2. Meski itu sangat sulit karna menurut seorang filsuf Cina (hayo, inget ga sapa?), yg paling sulit ditaklukan adalah diri kita sendiri. Manakala jalan senang dan jalan sulit terbentang, naluri ita akan cenderung memilih jalan senang. Atau tatkala kita dihadapkan pada jalan instan dan jalan berliku, otomatis kita akan pilih yang instan. Mungkin karena kita masih kurang bisa menghargai proses diri kita dalam membuka jalan2 kebaikan itu. ALLAHU'alam bishowab.

1 comment:

  1. ehemm...moco tulisan pas pengoreki error marai keselek..hehhehe (p3)

    ReplyDelete