Thursday, September 24, 2009

Ternyata Hanya Sebatas Justifikasi Kultural...

Ikhwah, mari kita sejenak berfikir telah berapa kali kita menjustifikasi ke-qowiy-an dan ke-haroky-an saudara-saudara sekitar kita dg parameter-parameter dangkal yang hanya punya satu sudut pandang yang sempit? Saya menulis ini sambil mengingat-ingat berapa banyak nama yang telah Saya perlakukan seperti itu dahulu. Mungkin memang pada awalnya kita melakukan pembahasan akan nama2 ikhwah dalam hadonah kita demi penyusunan renstra dakwah juga ke depannya. Tapi makin lama makin dipikir.. kok ya kebangetan banget kalo kita membahas itu terlampau jauh dan sampai kemana-mana. Toh, tidak ada yang menjamin bahwa kita benar2 lebih baik dari bahasan-bahasan kita tersebut. Hanya saja, amanah kita saja yang mungkin cukup membuat kita 'bergigi' di antara ikhwah-ikhwah lain tersebut.

Pernah ada seorang kenalan Saya (partner dalam amanah khos) di suatu wilayah (masih di tembalang juga) menjustifikasi salah seorang adik kelas kuliah yang tinggal di wismanya tidak qowiy karena masih sering mendengarkan musik-musik selain nasyid. Ada juga seorang senior yang mendapat justifikasi tidak qowiy karena masih sering baca komik atau kebanyakan nonton tv. Dan mengapa hal-hal demikian dapat menjadi parameter penentu keqowiyan seseorang, jelas itu adalah suatu hal yang mengkultur dan membudaya dalam kehidupan keseharian ikhwan-akhwat di lingkungan kampus.

Ada lagi dalam interaksi ikhwan akhwat misalnya, ada akhwat 'pemula'(belum lama liqo') yang sempat deg-degan dipanggil MRnya karena ketahuan mudik bareng seorang ikhwan 'pemula' juga karena belum berani mudik sendirian. Si akhwat pemula tadi sampai menangis dan dibuat merasa bersalah tiada henti-hentinya. Hebat!
Ada lagi yang sampai 'cuti' dari halaqoh sampai satu bulan lamanya karena sindiran keras dari Sang MR akibat kemalaman pulang ke wisma (kos binaan) melebihi batas jam malam (pada saat itu jam 20.30 WIB). Atau saat kepergok sms-an dengan seorang ikhwan lewat dari jam 21.00 WIB. Pokoknya luar biasa!

Asholah ditegakkan tanpa toleransi yang berlebihan. Mungkin ini pula yang membuat kader kampus selalu lebih berkualitas dari kader kantor atau kader kampung/ kota (meski mereka pun mungkin pernah menjadi kader kampus). Permasalahannya sekarang, bisakah kita menjustifikasi bahwa orang yang mempunyai toleransi berlebihan itu kader yang tidak qowiy???

Sepertinya tidak arif jika kita langsung beranggapan demikian. Setiap kader layaknya manusia biasa yang memiliki background berbeda. Seorang pecandu komik perlu waktu sampai belasan tahun untuk kemudian mencandunya dan menjadikannya sebuah kebiasaan. Demikian juga penikmat musik-musik selain nasyid. Bukan waktu yang singkat bagi seseorang untuk dapat menjadi penggemar seorang Steven Tyler atau mendapatkan inspirasi dari seorang John Mayer. Lantas, mengapa kita tak bisa bijak membiarkan kader-kader tersebut berproses dengan caranya sendiri yang mungkin lebih membuatnya nyaman daripada dengan sindiran-sindiran yang tajam?

Mungkin naluri manusia kita sangat ingin mengakselerasi pertumbuhan kader dengan cara-cara klasik seperti itu. Tapi ingat wahai ikhwah.. yang kita hadapi adalah manusia. Bukan wayang ataupun robot. Manusia punya hawa nafsu yang tidak selalu bisa dikendalikan. Manusia juga punya hasrat. Dan yang pasti manusia butuh eksistensi di hadapan manusia lainnya. Jika kita langsung mengebiri apa yang telah menjadi kesenangannya setelah sekian lama dengan cara yang sama sekali tidak elegan, bukankah itu akan merusak perasaan dan harmonisasi hidupnya dengan mendadak meskipun alasan kita demi tegaknya asholah dakwah?

Sekali lagi, ini hanya masalah kultur. Dan untuk membentuk kultur itu perlu waktu lama. Saya tidak mengatakan komik, televisi, ataupun musik-musik selain nasyid itu baik. Hanya saja, seseorang yang tidak suka komik, tidak suka nonton televisi, dan tidak suka musik-musik selain nasyid, yang masih menjustifikasi saudaranya sesama ikhwah itu buruk dengan semua kebiasaannya pun tidak bisa dikatakan baik. Karena seandainya ia tidak bermasalah pada poin-poin lemah itu pun, pastilah ia telah bermasalah pada kedewasaan hatinya yang sukar menghargai proses pencapaian hidayah yang sedang dilalui saudaranya. Allahu'alam bishowab.

No comments:

Post a Comment