Friday, October 30, 2009

P A T A H ..........



Manusia, dalam lingkup ketidaksempurnaannya memang memiliki banyak celah untuk mengeluh dan meratap. Kegagalan, kehilangan, ataupun kekalahan adalah potongan-potongan sketsa hidup manusia yang mau tidak mau pasti akan kita lalui juga. Mungkin kita sudah tidak mampu lagi menghitung berapa banyak keluhan dan ketidakterimaan yang telah kita hasilkan. Atau bahkan mungkin ada dari kita yang masih sangat ingin menjelma menjadi manusia lain dengan takdir lain yang lebih baik dari takdir kita sekarang.

Masa-masa kehidupan tidak selalu kita lalui dengan manis dan menyenangkan. Adakalanya kerapuhan menyesaki setiap relung hati, jiwa, dan pikiran kita sehingga membuat kita menjadi sangat sulit bergerak dan berekspresi selain pada sebuah rasa frustasi berkepanjangan. Menjadi korban atas kekejaman nasib yang selalu tidak bersahabat, menjadi korban pada setiap pertempuran, atau bahkan menjadi pecundang di segala kompetisi. Semua buruk jika kita hanya melihat pada sisi menang dan kalahnya saja. Padahal, dalam hidup tidak hanya ada menang dan kalah. Tidak hanya ada status pemenang dan pecundang pula. Karena status-status tersebut adalah status buatan manusia, maka ia tidak bisa dijadikan parameter dan tolak ukur hidup seseorang karena sifatnya terlalu duniawi belaka.

Salah satu penyebab luka ataupun rasa kecewa kita bisa jadi karena terlalu berharapnya kita pada manusia yang lain. Dalam konteks sosial, memang kita harus saling membutuhkan dan melengkapi. Namun, jika ketergantungan kita kepada manusia lebih besar daripada ketergantungan kita pada Allah Swt, maka hanya ada kekecewaan pulalah yang akan kita terima mengingat tak ada manusia manapun jua yang memegang kendali hidupnya sendiri. Semua ada dalam kendaliNya dan semua yang akan terjadi selanjutnya adalah skenario yang telah disiapkanNya untuk kita jalani.

Lantas, apa yang dapat kita katakan mengenai 'luka'? Adakah manusia di dunia ini yang tak pernah terluka? Kelukaan yang terjadi pada hati manusia adalah hal yang wajar terjadi. Luka itu adalah salah satu tarbiyahNya untuk membuat hati kita menjadi siap mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi. Manakala sekeping hati  manusia terluka, pastilah setelahnya ia akan memperkuat pertahanan hatinya untuk luka yang lebih besar lagi. Dan tanpa ia sadari, secara perlahan tapi pasti hatinya kembali menjadi lebih kuat dari sebelumnya setelah sembuh lukanya. Dan akan begitu seterusnya sampai pada akhirnya kita menjadi seorang superpower dalam urusan ini. Hati manusia tersebut pun menjadi lebih dewasa dan sulit untuk kembali terluka karena ridho dan ikhlas hatinya sudah mulai terbentuk secara alamiah.

Untuk menjadi manusia luar biasa memang menbutuhkan rangkaian proses yang sangat panjang. Harus jatuh dan patah berkali-kali untuk menjadikan diri kita sebagai manusia yang berkualitas. Secara kasat mata dapat terlihat perbedaan manusia yang hidup dengan luka di sana-sini akibat berkali-kali jatuh (atau) patah dengan  manusia yang sedikit, atau bahkan tidak pernah mengalami terluka sama sekali. Yang sudah sering terluka akan terlihat jauh lebih tegar dan kuat. Yang tidak pernah terluka......... mungkin akan telihat lebih rapuh dan lemah. Inilah sunatullahNya. Dia memang telah memilih orang-orang kuat yang mampu bangkit dari keterpurukan untuk kemudian dimuliakan dalam jannahNya.

Yakinlah, di luar semua itu ada satu cahaya yang sedang tersorot secara tajam mengarah ke kita. CahayaNya yang menyorot tajam kepada hamba yang tengah dirundung ujian yang belum juga berkesudahan. Cahaya yang sesungguhnya sedang menyinari sang hamba tadi agar tampaklah kemuliaannya yang timbul pada keistiqomahan menghadapi ujian hidup. Luar biasa! Layaknya seorang bintang panggung yang sedang disorot lampu secara close up maka sang hamba tadi pun demikian. Bintang atas keteguhan hatinya akan mebuat semua mata tertuju kepadanya. Karena imannya.. telah membuatnya sedemikian bersinar di hadapan para malaikat dan TuhanNya.... Allahu'alam bishowab.

Thursday, October 29, 2009

R e h a t

Satu kata, namun sangat berarti dan memegang peranan yang sangat vital dalam proses perjalanan hidup seorang anak manusia yang penuh liku. 
Satu kata, yang sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan hidup seseorang. 
Dan satu kata, yang dapat membuat kita terjaga atau justru lalai dalam menyikapi kesempatan di dalamnya....Rehat.

Hidup ini, entah dengan model dan cara seperti apa yang empunya hidup dalam menyikapinya, adakalanya terasa begitu berat dan melelahkan. Dan pada titik tertentu akan muncul beberapa alasan yang membuat kita harus berhenti sejenak dari rutinitas dan segala kejenuhan aktivitas. Kemudian pada saat itulah 'rehat' masuk dan memberikan solusi terbaik bagi kita.

Saya pribadi tidak pernah membayangkan jikalau hari minggu dalam kalender kita tidak lagi berwarna merah, namun hitam dan selanjutnya berfungsi sama seperti senin, selasa, dan sebagainya. Mungkin semua aktivitas kita tidak lagi menjadi optimal. Kejenuhan dan kejumudan pun satu hal wajar yang tidak dapat dihindarkan. Dengan sistem lima atau enam hari kerja saja masih banyak yang menilainya belum optimal, apalagi tujuh hari kerja..... tidak terbayangkan!

Manusia bukanlah robot yang bisa secara terus-menerus bekerja, berfikir, dan merasa. Ada kalanya kita berada di titik jenuh dalam pekerjaan, titik stres dalam pikiran, atau bahkan ada di titik sensitif yang tinggi akibat kejenuhan perasaan kita sendiri. Semua itu butuh suatu proses pengembalian performa agar kembali normal. Dan itu ada pada proses berhenti sejenak tadi, atau yang biasa kita sebut dengan rehat. Berhenti sejenak untuk mengumpulkan kekuatan dalam bekerja, berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran, dan berhenti sejenak untuk kembali memanajemen perasaan kita. Semuanya begitu penting bagi jiwa kita.

Rehat, nikmatnya berhenti dari segala sesuatu yang melelahkan dan menjemukan pun bisa jadi menjadi bumerang untuk diri kita sendiri. Terlalu lama berhenti di pemberhentian sementara bisa jadi akan membuat suatu bus padat penumpang ditinggalkan oleh para penumpangnya. Atau dengan kata lain, energi yang semula kita rencanakan akan terkumpul pada saat rehat akan menguap seiring lamanya waktu kita berhenti. Usaha syaitan untuk kemudian melenakan kita dari tujuan semula dan niatan awal bisa dimulai dari jalur rehat yang terlalu lama. Maka, penting bagi kita untuk kembali menschedulle kembali jadwal rehat kita di tengah kejumudan aktivitas dan pikiran kita.

Yang harus disadari dan dijaga, adalah bagaimana kita tetap mempunyai strategi rehat yang menyehatkan dan bukan memperparah kejenuhan kita. Tempatkan rehat dalam space yang tidak terlalu besar dalam ruang aktivitas kita. Dan semua akan baik-baik saja... Allahu'alam bishowab

Wednesday, October 28, 2009

Ternyata Mencintai itu Membutuhkan Energi yang Luar Biasa......

"Senja ini Aku mendapat satu pelajaran berharga dari seseorang yang biasa kupanggil 'kakak'. Bahwa ternyata mencintai itu membutuhkan energi yang luar biasa besarnya..........."


Mencintai, apapun konteksnya dan kepada siapapun rasa itu ditujukan, tetap memerlukan suatu kekuatan yang cukup besar. Kekuatan untuk kecewa, mengalah, disakiti, sampai pada titik terbesar adalah kekuatan untuk ikhlas dalam mencintai. Sisi manusiawi seorang manusia yang ingin cintanya bersambut dan berbalas pun tak lepas dari pamrih seseorang dalam mencintai. Memang hal yang wajar manakala pamrih tersebut disertai dengan kedewasaan dalam mencintai, jadi harapan untuk tidak bertepuk sebelah tangan pun tidak menjadi suatu ambisi yang dengan frontal diperjuangkan.

Saat kita telah berani mendeklarasikan diri bahwa kita mencintai seseorang, maka selayaknya kita pun sudah menyiapkan space hati untuk kemudian merasa kecewa. Karena idealnya orang mencintai, pastilah punya harapan terhadap objek lain di luar dirinya. Dan hidup tidak selalu berjalan di atas rel-rel harapan yang telah Kita bangun. Adakalanya meleset sedikit, adakalanya meleset agak jauh, bahkan keluar jalur juga memungkinkan. Semua jelas menguji kesiapan mental dan kedewasaan kita dalam mencintai. Dan pastinya, kekuatan kita pun diuji.

Selanjutnya, dalam mencintai pun kita wajib menyiapkan kekuatan lain untuk mengalah dan bersedia bersikap dewasa untuk setia memberi. Karena (menurut Saya, hakikat cinta itu adalah pelayanan, dan pelayanan terimplementasi dalam proses 'memberi'). Memberi apapun demi membuat yang dicinta bahagia. Fuih... sepintas kedengarannya sangat 'lebay' dan membebani. Tapi memang dalam kenyataannya seperti itu. Jangan dulu mengumbar kata 'cinta' jika memang belum siap masuk dalam proses memberi, apalagi melayani. Kemudian memberi di sini dapat diperluas menjadi memberi rasa aman dan nyaman. Berarti sudah masuk dalam tahap 'menjaga' orang yang dicinta. Cakupan menjaga pun dapat dibuat lebih detail lagi. Mulai dari menjaga perasaan sampai menjaga nama baiknya di depan orang lain. Tak rela orang yang dicinta terlukai dan tersakiti. Juga tak rela melihatnya dikatakan buruk oleh orang lain. Semua terangkum dalam kesediaan memberi. Memberi dedikasi dan loyalitas untuk yang dicinta. Dan semua itu butuh kekuatan yang tidak sedikit.

Terakhir dan yang menjadi inti dari mencintai, adalah keikhlasan dalam merasakan rasa cinta tersebut. Ikhlas untuk menerima apapun konsekuensi dari mencintai. Karena mencintai adalah sebuah keputusan, maka sepatutnya sudah ada komitmen keikhlasan di dalamnya. Dengan ikhlas, semua kekuatan dan energi yang harus dikeluarkan seseorang dalam mencintai akan terasa lebih bermanfaat. Bukan lagi menganggap mencintai itu sebagai sebuah beban yang menyiksa jiwa dan raga. Namun, ia bisa merasakan bahwa mencintai itu dapat menjadi suplemen bagi jiwa sehingga akan terus memotivasi dirinya sendiri untuk terus berubah menjadi manusia yang lebih berkualitas dalam mencintai manusia lainnya. Ya, karena cinta selalu butuh proses pembelajaran panjang yang tidak akan pernah berhenti. Dan setiap orang berhak untuk itu.
Allahu'alam bishowab.


Tuesday, October 27, 2009

DIBOHONGI.....???

Kalau ditanya perlakuan apa yang paling menyakitkan buatku, maka dengan lantang Aku akan menjawab: dibohongi. Entah mengapa Aku begitu sulit memaafkan orang yang telah bohong (apapun) alasannya kepadaku. Memang ini sungguh tidak rasional...


Setiap orang, siapapun itu pastilah mempunyai titik lemah dalam perasaannya yang untuk lebih mudahnya Kita sebut "poin sensitif". Poin sensitif setiap manusia, termasuk Saya dan juga Anda jelas berbeda. Ada yang tidak suka disindir, tidak suka dibentak, tidak suka dibohongi, dan sebagainya. Manakala ada manusia lain yang 'menyentuh' poin sensitivitas dalam diri Kita tersebut, maka akan ada respon ketidaksukaan, kekecewaan, bahkan sampe pembalasan dendam (yang ini mah kelewatan yaaa) sebagai bentuk perlawanan dan pertahanan diri dari diri Kita. Ini memang wajar mengingat manusia memang termasuk makhluk yang responsif.

Hanya saja, kecerdasan manusia dewasa ini seolah menurun dalam poin-poin sensitif itu. Emosinya lebih dominan menguasai akalnya sehingga ekspresi atas respon negatif akibat hatinya 'terusik' tadi menjadi luar biasa bodohnya. Mengapa dengan tegas Saya katakan bodoh? Karena sudah sekian lama hidup tetap terjebak pada lubang (poin sensitif) yang sama. Meskipun itu suatu kewajaran, namun jikalau dari hari ke hari masih mendapat rapor merah dalam penilaian atas penyikapannya, ya..... artinya Ia tidak bisa belajar dari masa lalunya.

Semisal, Saya katakan dalam prolog di atas bahwa Saya sangat marah pada orang yang telah berbuat bohong apapun alasannya. Dahulu, saat belum sematang ini (padahal sekarang juga belum matang sih...), Saya selalu marah besar dengan ekspresi yg sedikit 'mengerikan' (yang ini ga usah dideskripsikan ya..) jika telah dibohongi. Saya tidak marah manakala Saya disindir, dibentak, ataupun dimarahi dengan cara yang kasar sekalipun. Saya hanya marah ya.... kalau sudah dijanjikan atas sesuatu hal, trus yang menjanjikan uzur sehingga tidak bisa tepati janjinya. Itu ada jaminan Saya pasti akan marah. Namun seiring berkembangnya kedewasaan Saya (jiah... dewasa!), maka ekspresi 'mutung' Saya pun ikut-ikutan dewasa. Yang pada awalnya cukup 'mengerikan' dan sedikit frontal, maka ya.... sekarang marahnya agak kalem lah (tapi tetep mutung..hehe)

Kembali ke masalah poin sensitif tadi, sebetulnya apa yang menyebabkan seseorang sangat sensitif terhadap hal-hal tertentu? Menurut Saya, yang pertama jelas sifat seseorang. Kemudian kedewasaannya, terakhir back ground hidupnya. Kompleks! Namun segala kekompleks-an tadi bukan berarti tidak bisa disimple-kan (bahasanya tambah ngaco!). Kondisi saling memahami antara manusia satu dengan manusia yang lain sepertinya sudah cukup menjadi solusinya (what? masalah rumit begini solusinya 'cuma' saling memahami??!)

Ya... memang hanya itu solusinya. Solusi umum untuk segala hubungan interpersonal manusia adalah konteks saling memahami dan mengerti antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Itu sudah cukup untuk menciptakan kedamaian di muka bumi ini (itung2 bantu kerjaannya sailormoon ya....).

Smoga Allah Swt senantiasa menganugerahkan kepada Kita kebijaksanaan dan kdewasaan tak berujung pangkal sebagai media untuk membuka jalan Kita untuk menuju jannahNya...........

Saturday, October 24, 2009

Karna dirimu..... begitu berharga!


Pada awalnya Saya cukup heran dengan hasil personality test Saya yang mengatakan bahwa karakter seperti Saya di dunia ini hanya ada sekitar 3% dan hampir 3/4 manusia pemilik karakter seperti itu laki-laki. Personality test itu cukup valid dan diakui sehingga Saya pun dapat mempercayai hasilnya. Dan ketika Saya memahami analisa atas hasil personality test Saya pun menemukan banyak kesamaan antara analisa mereka dengan keseharian Saya. Jadi, ya.... memang seperti itulah personality Saya sesungguhnya.


Seperti apapun kepribadian seorang anak manusia tetap saja mengandung 2 unsur inti yang selalu ada didalamnya, yakni unsur lebih dan kurang. Kedua unsur inilah yang lantas membuat manusia menjadi lengkap dalam penciptaannya. Dan kedua faktor inilah pula yang secara konkret mencerminkan manusia sebagai makhluk sosial yang (idealnya) harus saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.

Banyak orang yang merasa minder dan 'tak layak' hanya karna belum menemukan 'harga' yang pas untuk menakar dirinya sendiri di hadapan orang lain. Padahal, seperti telah Saya sampaikan sebelumnya bahwa ada unsur 'lebih' dan'kurang' yang bersinergi dalam pribadi kita. Sebagai orang dewasa, sudah sepatutnya kita bisa menempatkan takaran yang sesuai untuk 'lebih' dan 'kurang ' tersebut. Tidak terlalu menjunjung tinggi, namun tidak pula merendahkan martabat diri dengan menempatkan nilai yang terlalu rendah di hadapan orang lain.

Setiap dari kita berharga, minimal untuk diri kita sendiri. Seberapa besar cinta kita untuk diri sendiri berbanding lurus dengan perlakuan kita pada diri sendiri. Dan tanpa dapat dipungkiri lagi bahwa semua berkaitan dengan latar belakang hidup seeorang. Manusia yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang penuh cinta tentu akan memiliki penilaian berbeda terhadap dirinya jika dibandingkan dengan manusia yang dibesarkan tidak dalam lingkungan yang harmonis. Kecenderungan-kecenderungan semacam ini memang tidak dapat dinafikkan lagi. Namun, satu yang pasti... apapun yang telah terjadi di masa lalu kita (selama itu bukan kejahatan), sama sekali tidak akan mengurangi nilai diri kita sebagai manusia. Namun, acapkali ini yang sering dilupakan. Banyak orang menganggap nilai diri seseorang itu tidak berdiri sendiri, melainkan masih bergantung pada aspek-aspek eksternal lain yang melingkupi hidup seseorang, antara lain: keluarga, kekayaan, kedudukan, paras fisik, dan sebagainya. Sebetulnya itu tidak salah, namun ketiadaan aspek-aspek tersebut pun tidak dapat dikatakan akan mengurangi nilai diri seseorang. Setidaknya begitulah opini Saya.

Tak ada yang memaksa kita untuk berfikir negatif selain persepsi buruk kita sendiri terhadap sesuatu. Karna di dunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar buruk kecuali pada hal-hal yang telah ditetapkanNya sebagai sesuatu yang buruk, selebihnya tidak ada. Semakin banyak kita menganggap hal-hal baik itu buruk, maka tanpa sadar kita sedang membangun tembok besar yang dapat membatasi kita dari kebaikan yang lebih banyak lagi.

Sekali lagi, Saya sampaikan bahwa kitalah yang paling memahami diri kita (nomor 2 setelah Allah Swt). Dan kitalah yang idealnya mampu memasang 'harga' untuk diri kita di hadapan orang lain. Tidak untuk menjadi yang rendah ataupun terlampau tinggi. Tapi untuk menjadi seorang manusia berkualitas yang mampu menghargai dirinya sendiri atas segala nilai 'lebih' dan 'kurang' yang melingkupi dirinya.

Wednesday, October 21, 2009

Antara Hati dan Logika...


 Akhir-akhir ini sepertinya hidupku agak tidak teratur dari biasanya. Ekspresiku menjadi sulit ditebak oleh orang-orang di sekitarku. Tiba-tiba meledak, sesaat kemudian sudah berubah lagi menjadi seorang penyayang yang super duper sensitif. Rasanya jiwa ini ingin protes sejadi-jadinya karna sudah tak mampu lagi mengikuti kehendak logikaku yang (kata orang) sangat matematis dan tidak berperasaan. Lelah juga jadi orang yang terlampau logis. Jadi inget beberapa testimonial di FSku (masi jaman yaaa...?) dari beberapa yang mengatakan bahwa Aku terlalu mengandalkan logika dalam keseharianku.

Sepuluh tahun terakhir ini, Aku selalu beranggapan bahwa bergaul dan berinteraksi dengan hati itu selalu menyakitkan (mungkin akibat trauma masa lalu). Ada saat-saat di mana kita menjadi pelaku dan lain waktu mungkin giliran kita menjadi obyek dari rasa sakit itu. Sebetulnya pemeoku (pribadi) itu tidak salah. Namun tidak bisa dibenarkan juga. Ada banyak hal mudah yang menjadi sulit karena mengkaitkan urusan hati di dalamnya. Pun demikian pada saat kita harus mengambil keputusan dalam suatu permasalahan misalnya. Jika Kita hanya bertumpu pada logika benar dan salah, maka peluang untuk menyakiti 'yang salah' pun menjadi terbuka lebar. Justifikasi dan proses penghakiman ala manusia mulai bermain di sini. Yang salah semakin merasa tertuduh, yang benar semakin merasa menang. Akhirnya proses sakit menyakiti dan dzolim mendzolimi pun menjadi aksi yang bisa dipertontonkan dengan bebas.

Lantas, di mana kita harus memposisikan hati dengan tepat agar tidak terlindas logika kita? Belum lagi jika masih ada ego yang siap untuk membuat kita menjadi semakin pongah dan tidak mau mengalah. Yang jelas, hati harus tetap ada pada tempatnya dan dalam porsi secukupnya. Karna ketika kita sudah berlebihan mengeluarkan stok sensitifitas dalam hati kita, maka kita pun harus menyiapkan cadangan mental untuk kemudian menjadi siap jika sewaktu-waktu tersakiti. Logika pun tidak perlu mendominasi aktivitas kita karna logika yang terlalu tajam seringkali mengabaikan perasaan orang lain. Masalah ego... setiap orang punya standar ego yang berbeda-beda tergantung kedewasaannya dalam bersikap dan merespon apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Allahu'alam bishowab.

Lagi-lagi mereka kembali menilaiku dengan penilaian yang hampir seragam: jutek, keras, dingin, dan sebagainya. Ternyata harus kembali pada proses kontemplasi besar-besaran dalam diri ini.....

Saturday, October 17, 2009

(Smoga) Masih Ada Hati untuk Al Aqsha....

Menangis hati-hati kami pun miris jiwa-jiwa kami mengikuti perkembangan Al Aqsha belakangan ini. Pengalihan issue yang sudah sedemikian hebatnya semakin membuat sebagian besar dari kami terpuruk dalam ketidaktahuan. Media yang ada justru semakin mengintimidasi otak-otak kami dengan menjauhkan kami dari fenomena yang ada. Ada pula semacam opini yang mengatakan bahwa umat Islam Indonesia harus 'dihindarkan' dari berita2 yang membuat mereka marah agar kasus terorisme tidak terulang. Luar biasa!!!

Apakah memang begitu karakter manusia masa kini? Tak akan merasa terancam selama bumi tempatnya berpijak masih dalam status aman dan sejahtera. Kadang sempat terfikir juga, mungkin jika Al Aqsha itu ada di Jakarta barulah Indonesia bergejolak hebat. Nasionalisme ini masih terbangun atas dasar geografis semata. Dan itulah yang masih menjadi landasan teori manusia mayoritas dalam bersikap. Padahal ancaman akan runtuhnya Al Aqsha bukan datang kali ini saja. Rencana Zionis terhadap Al Quds pun bukan hanya gertakan setahun dua tahun saja. Bahkan semua sudah terangkum dalam proyek zionisme hingga tahun 2020 mendatang. Kaum zionis sangat bernafsu menjadikan Al-Quds sebagai ibukota bagi Yahudi, tak terbagi dengan Arab, membangun haikal dan mengeluarkan warga Arab yang merupakan penduduk mayoritas Al-Quds saat ini.


Mungkin Indonesia memang sedang terluka dengan tangisan menyayat dari duka SumBar yang entah sampai kapan itu kan berakhir. Indonesia pun masih menyisakan kegeraman mendalam utk para pelaku 'teroris' yang telah mengganggu kenyamanan hidup mereka, apalagi sampai mengambil korban anggota keluarga mereka. Indonesia kini pun tengah menanti keputusan politis dari Sang Presidennya atas nasib negeri ini lima tahun ke depan. Ada lagi ilustrasi Rasulullah saw yang (kembali) menyita perhatian dan kejengkelan kita. Atas semua itu memang sepertinya issue Al Aqsha dan Palestina sangat mudah dinafikkan dari fikiran dan luput dari perhatian kita.

Namun, sudah sepatutnya kita masih menyisakan ruang khusus di jiwa kita untuk Palestina, dan
Semoga kita masih bisa menyisakan space di hati kita untuk Al Aqsha tercinta...


Sunday, October 11, 2009

Belajar Mencintai dengan Rasa Cinta.....


Mungkin kita sudah tidak ingat lagi telah berapa kali kita mengucapkan kata 'cinta' pada lawan bicara kita, dalam hal ini bisa kepada kedua orang tua, adik, kakak, istri atau suami kita, bahkan kepada saudara-saudara seiman kita. Pun ketika kita mencoba menghitung kembali telah berapa kali kita diberi ucapan cinta mungkin kita tidak kan mampu menyebutkan jumlah yang tepat atau bahkan mendekati tepat pun tidak.Jika dari usia anak-anak kita sudah dididik dan dibesarkan dengan kata cinta, tentunya kita tidak mampu telah berapa ratus kali kata itu melintas dalam saluran pendengaran dan pengucapan kita. Lain halnya ketika kita dibesarkan dalam keluarga yang minim dari cinta, pastilah kata itu menjadi sangat sulit dilisankan karna memang tidak terbiasa (yang ini sudah terbukti lho..). Namun apalah itu, buat Saya cinta adalah perkara yang (mungkin sulit) namun masih dapat dipelajari meski butuh waktu cukup lama.

Mencintai bagi sebagian orang bukanlah hal yang sulit. Sayangnya, menghilangkan perasaan cinta yang tak lama kemudian berujung pada kebencian pun juga menjadi hal yang mudah pada masa sekarang ini. Kalau menurut Saya ada proses mencintai dan dicintai yang salah di sini. Cinta yang seharusnya itu menjadi sesuatu yang indah sekarang menjadi alasan yang sah dan legal dalam menghilangkan nyawa seseorang. Bukankah itu sungguh kontradiktif? Banyak orang bisa tenggelam dalam euforia mencintai dan dicintai, namun hanya sedikit orang yang bisa larut dalam rasa cinta yang sesungguhnya. Ironis.

Rasa cinta itu fitrah..
Rasa cinta murni dari Tuhan kita..
dan kemurnian itu hanya bisa dijaga dengan proses penjagaan yang benar dan Ia ridho terhadapnya
Manakala cinta telah dianggap menjadi sesuatu yang tidak murni lagi dengan penyusupan hawa nafsu dan ego pribadi maka cinta akan kehilangan makna yang sesungguhnya.
Maka, sudah sepatutnya bagi diri dan jiwa kita untuk merefleksi rasa cinta yang telah kita terima dan beri kepada sesama kita selama ini. Apakah Tuhan kita ridho dengan cara kita mencintai dan dicintai? Allahu'alam...
Pertanyaan retoris yang hanya mampu dijawab jujur jika kita belum mematikan hati dan telinga kita dari kebenaran. Dan pada akhirnya proses ini memang membutuhkan pembelajaran yang panjang hingga kita benar-benar dapat mencintai dengan sebenar-benarnya rasa cinta, bukan nafsu ataupun karna kebiasaan semata..

G A G A L.....


Judul besar di atas bukanlah suatu kata tepat untuk menggambarkan kondisi manusia masa sekarang. Siapa sih yang bersedia untuk gagal di era serba berhasil seperti sekarang? Ada? Mungkin jika memang ada, dia pun sedang bersiap mengasah pisau cutternya untuk mengiris nadinya di waktu selanjutnya.


Untuk menghindari gagal ada banyak cara yang bisa ditempuh. Positif atau negatif caranya, keduanya tetap membutuhkan effort dalam proses pencapaiannya. Jadi memang semua harus ada proses untuk menghindari kegagalan. Mulai dari belajar semalam suntuk atau justru malah melobi pejabat yang dikenal untuk kemudian bisa masuk dan bekerja di suatu instansi. Atau sistem kebut semalam mempersiapkan kepe'an (baca: contekan) demi ujian akhir pada beberapa mata kuliah rumit yang sama sekali tidak bisa difahami.. semua butuh proses dan proses sendiri membutuhkan kesediaan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Karena memang untuk tidak menemui kegagalan, kita harus rela mengorbankan apa yang dapat kita korbankan. Paling tidak itu demi diri kita sendiri.

Tidak ada satupun manusia yang terlahir ke bumi menginginkan suatu kegagalan terjadi dalam hidupnya. Namun seringkali tanpa kita sadari justru kita telah mendesain hidup kita untuk gagal dan gagal lagi. Tak ada sesuatu yang mustahil kita raih, melainkan kita tidak mau meraihnya. Ingatlah saudaraku, Allahu ma'ana.. Allahu ma'antum.. dan ada doa yang menjadi media komunikasi unggulan kita denganNya. Namun seringkali kita (termasuk Saya) mendiskreditkan kehadiranNya dengan melisankan ucapan2 putus asa yang dapat melemahkan iman kita dengan kata 'tidak bisa' atau 'percuma'. Dan akhirnya persepsi kita dengan prematur kegagalan seperti itu yang akan menjadikan kita putus asa.

Kegagalan, apapun alasannya tetaplah merupakan suatu hal yang amat menyakitkan. Betapa tidak, kita dihadapkan pada suatu kenyataan yang sama sekali jauh dari apa yang kita inginkan dan cita-citakan. Sementara, di sekitar kita ada orang lain yang mampu lebih bersinar setelah mencapai apa yang mereka cita-citakan. Kegagalan dalam akademik, prestasi kerja, pernikahan, ataupun kegagalan dalam pencapaian hal-hal lain dalam hidup ini adalah momok terbesar bagi sebagian besar orang. Karena mereka menjadikan ini momok, maka seringnya jadi menghalalkan segala cara untuk berhasil mencapai tujuan dan menghindari kegagalan. Lantas bagaimanakah dengan kita?

Setiap orang idealnya pernah mengalami kegagalan pun seperti halnya Saya. Kegagalan pada awalnya mungkin membuat kita jatuh dan pada beberapa kasus dapat mengakibatkan cacat yang berkepanjangan. Penyikapan yang direspon oleh masing-masing dari kita pun berbeda-beda tergantung pada kadar kesiapan mental kita dalam memproyeksi kemungkinan terburuk dari apa yang kita rencanakan. Ada yang standar-standar saja hanya berujar "yah...." dengan nada kecewa sampai aksi nekat bunuh diri yang di waktu selanjutnya ramai menjadi topik pada headline beberapa surat kabar lokal. Selain itu penyikapan kita terhadap kegagalan yang menimpa, utamanya bergantung pada seberapa besar keyakinan kita pada ketetapanNya. Bukankah kita semua tahu bahwa apa yang seharusnya Allah gariskan menjadi bagian kita dalam kenyataannya pasti akan menjadi bagian kita juga dan sebaliknya?


Persiapan dalam hidup memang harus matang. Doa pun harus kerap dipanjatkan. Syukur jangan hilang ditelan kenikmatan. Semua saling bersinergi untuk menjadikan kita sebagai manusia kuat yang tak mudah goyah ditebas badai apapun itu. Seberapa besar masalah yang kita hadapi pada intinya adalah untuk mengembalikan diri kita pada fitrah kita sebagai hambaNya yang dho'if. Seberapa rumitnya persoalan hidup yang kita temui adalah rangkaian puzzleNya dalam meningkatkan derajat taqwa kita. Karna Ia selalu memberi apa yang kita butuhkan... dan hanya Ia yang selalu ada dalam segala takdir yang sedang ramah menyapa hidup kita, susah maupun senang. pahit ataupun manis. Karna Ia memang ingin mengajarkan kepada manusia tentang arti sebuah keberhasilan yang (bisa jadi) bermula dari sebuah kata menyakitkan : GAGAL
Allahu'alam bishowab.

Thursday, October 8, 2009

dan Menikahlah...



"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi."
(HR. Thabrani dan Hakim)


Siapapun tahu hadits di atas, bahkan mungkin sudah hafal di luar kepala. Oleh karenanya, Saya menggunakan hadits tersebut untuk membuka tulisan ini dengan topik yang mungkin sudah sangat familiar dengan keseharian kita, menikah.

Sebelumnya, di sini Saya sama sekali tidak bermaksud menggurui siapapun. Saya hanya ingin memotivasi antum/ antunna sekalian dan (tentunya) juga Saya pribadi untuk tidak menunda-nunda dalam urusan menikah. Karena terbukti, menundanya jika memang sudah ada kesiapan untuk mengarah ke sana akan menyebabkan dosa-dosa dan fitnah yang luar biasa. Setidaknya itu beberapa fenomena yang Saya temui.

Saya pun menulis ini mungkin juga karna tiba-tiba mendapat inspirasi tambahan dari orang-orang terdekat Saya (teman) yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengena.. meski sedikit.

Sebetulnya teman-teman selain yang akan melangsungkan pernikahan itu pun (menurut Saya pribadi) banyak yang juga sudah siap untuk menikah. Hanya saja mungkin memang belum siap (katanya sih gitu) saja untuk melampaui proses sakral itu. Mengikat janji dalam mitsaqon gholidzha... berat juga memang kalo dipikir. Di mana 'orang asing' yang baru kita kenal akan masuk ke dalam hidup kita melalui sebuah proses yang relatif singkat. Memang kalau dipikir terus, semakin mengerikan. Apalagi kisah KDRT yang juga tidak sedikit. Perselingkuhan pun menjadi suatu hal wajar di masa sekarang. Bisa jadi itu bisa menjadi trauma tersendiri bagi sejumlah orang.

Beberapa kali Saya mengikuti bahkan menyaksikan kisah perselingkuhan yang (entah mengapa) selalu Saya saksikan sendiri cukup membuat Saya miris. Mulai dari cerita seorang teman dekat yang (ternyata) istri simpanan dari seorang pengusaha yang telah menikahinya secara sirri beberapa tahun lalu hingga perceraian seorang kenalan yang juga berpangkal pada proses perselingkuhan yang sungguh sangat dramatis.. (what? dramatis??) sehingga cukup membuatku merasa 'ngeri' untuk memulai menulis dengan topik ini.

Mungkin hal inilah yang membuat seorang temanku enggan untuk menyegerakan menikah. Traumatis dari kisah-kisah orang terdekat yang mengalami kegagalan dalam kehidupan pernikahannya. Padahal dilihat dari sisi usia beliau.... ya cukup matanglah untuk menikah. Namun, ketakutannya yang begitu besar akan kegagalan pernikahan justru sudah menjustifikasi keputusannya untuk tetap berada di dalam keragu-raguan daripada memilih untuk menyegerakan menikah. Saya pun sampai kehabisan kata-kata untuk meyakinkan bahwa takdir manusia itu tidak selalu sama. Dan tentunya ujian seseorang pun berbeda-beda. Betapapun sakitnya perceraian itu dialami oleh sepasang suami istri melainkan mereka sanggup untuk menerimanya. Tidak hanya mereka tentunya, tapi juga anak-anak korban perceraian itu yang pasti mau tidak mau harus kuat menerima justifikasi hidup selanjutnya, pasca perceraian kedua orang tuanya.

Semasa awal kuliah dulu, beberapa teman sudah menawarkan referensi buku-buku apa saja yang harus Saya baca. Dan kesemuanya tentang pernikahan. Awalnya saya 'dicekoki' novel-novel yang cukup membuat imajinasi Saya terbayang-bayang pada sesosok istri sholihah dengan kriteria-kriteria sesuai Si Tokoh utama dalam novel tersebut. Selanjutnya Saya pun mulai dihadiahi buku-buku (yang sekarang entah kemana) dengan tema yang lebih berat. Jadi kalau Saya pikirkan kembali, ternyata memang ada silabusnya dalam mengajarkan seseorang ilmu ini. Memang harus demikian. Karna ketika kita membicarakan topik yang cukup sensitif ini dengan orang yang memang belum siap, hanya akan membuat hati kotor dan imajinasi termanjakan. Gawat jadinya..

So, memang sesuatu yang baik dan mulia (dalam hal ini pernikahan) harus diawali dengan niat dan tujuan yang baik. Caranya pun harus baik. Baiknya menurut baiknya Allah Swt, bukan baiknya manusia. Setelah semua proses dilalui dengan baik, maka selanjutnya.. kembali padaNya. Menikah itu mudah bukan?
Maka... apa lagi yang kau tunggu Saudaraku?
Menikahlah.. dan Menikahlah ^^v

(esp 4 someone, Aku sangat menantikan undangan darimu mba!)

Sunday, October 4, 2009

Mengapa Hanya Sebatas Ini..?

Mengapa hanya sebatas ini?
Kau tetap khusyuk dalam aktivitas panjang untuk dirimu sendiri..
Tak melihatkah kau bahwa Saudaramu sedang menjerit pilu pada ujiannya?
Tak tersentuhkah hatimu melihat wajah pucat pasi mereka?
Menahan tangis kepedihan bersiap diri terima berita duka dari sanak keluarganya

Saudaraku,
Allah memperlakukan mereka dalam derita bukan hanya ingin memuliakan mereka saja
Dia pun ingin memuliakan hambaNya yang lain dengan amalan-amalan atas tangis saudaranya
Seberapa tersentuhnya kita akan penderitaan mereka jelas tidak sama
Karena sensitivitas kita terhadap ayat-ayat peringatanNya pun berbeda

Yang mengherankan adalah...
Ketika manusia-manusia masih istiqomah dengan aktivitas awal bulan mereka
Menghabiskan waktu sepanjang pagi siang malamnya untuk dunia semata
Memberi jatah penghasilan bulanan pada departement store sejumlah nominal yg terlalu besar untuk diinfaqkan
Padahal peringatan ini begitu tegas dan fenomena ini begitu menyedihkan
Ternyata bencana berkali-kali pun belum sempurna masuk ke dalam hati-hati kita
Sehingga belum berfungsi sebagai alarm pengingat mati yang optimal...

Ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dihabiskan dengan ekspresi puas telah mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya
Ironisnya, jumlah itu sangat berbeda jauh nilainya dengan nominal yang diberikan untuk membantu hidup saudaranya yang juga korban bencana itu
Bisa sepuluh kali lipat bisa dua puluh kali lipat
Rabbana!

Padahal caraNya ini sudah sangat menghasilkan banyak airmata kepedihan
Kepedihan yang sangat menggores dalam pada batin sejumlah anak Adam
Semoga tak perlu ada cara yang lebih menyakitkan dari ini
Hanya untuk mengingatkan manusia-manusia yang sulit sadar..
Allahu'alam bishowab.

Rabbi, jika boleh hamba memohon
Hamba kan merajuk agar Kau menegarkan mereka dalam tiap tetes airmata mereka
Penuhilah jiwa mereka dengan kekuatan untuk senantiasa husnudzon billah dalam kesempitan mereka
Berkahilah tiap tangis kehilangan mereka dengan pancaran kemuliaanMu
dan atas kesabaran mereka, tempatkanlah mereka dalam ruang istimewaMu

Saturday, October 3, 2009

Ketika Senyum...

Ketika Senyum ini dapat menyembunyikan segalanya
Di antara ruang bahagia yang semakin lama semakin sempit
Maka keindahan itu semakin lama kan enggan memunculkan diri ke permukaan
Dalam raut pucat pasi setia menunggu ajal menghampiri

Ketika Senyum ini dapat menjadi penawar kegetiran
Meski hancur tercabik tangan-tangan pembunuh berdarah dingin
Maka semua akan terlihat baik-baik saja
dan samar pada kepedihannya

Akankah senyum hanya bernilai semurah itu?
Paling tidak untuk kali ini ya..
Saat bersahabat dengan keletihan dalam tidur panjang ini.. IRONIS!