Wednesday, October 21, 2009

Antara Hati dan Logika...


 Akhir-akhir ini sepertinya hidupku agak tidak teratur dari biasanya. Ekspresiku menjadi sulit ditebak oleh orang-orang di sekitarku. Tiba-tiba meledak, sesaat kemudian sudah berubah lagi menjadi seorang penyayang yang super duper sensitif. Rasanya jiwa ini ingin protes sejadi-jadinya karna sudah tak mampu lagi mengikuti kehendak logikaku yang (kata orang) sangat matematis dan tidak berperasaan. Lelah juga jadi orang yang terlampau logis. Jadi inget beberapa testimonial di FSku (masi jaman yaaa...?) dari beberapa yang mengatakan bahwa Aku terlalu mengandalkan logika dalam keseharianku.

Sepuluh tahun terakhir ini, Aku selalu beranggapan bahwa bergaul dan berinteraksi dengan hati itu selalu menyakitkan (mungkin akibat trauma masa lalu). Ada saat-saat di mana kita menjadi pelaku dan lain waktu mungkin giliran kita menjadi obyek dari rasa sakit itu. Sebetulnya pemeoku (pribadi) itu tidak salah. Namun tidak bisa dibenarkan juga. Ada banyak hal mudah yang menjadi sulit karena mengkaitkan urusan hati di dalamnya. Pun demikian pada saat kita harus mengambil keputusan dalam suatu permasalahan misalnya. Jika Kita hanya bertumpu pada logika benar dan salah, maka peluang untuk menyakiti 'yang salah' pun menjadi terbuka lebar. Justifikasi dan proses penghakiman ala manusia mulai bermain di sini. Yang salah semakin merasa tertuduh, yang benar semakin merasa menang. Akhirnya proses sakit menyakiti dan dzolim mendzolimi pun menjadi aksi yang bisa dipertontonkan dengan bebas.

Lantas, di mana kita harus memposisikan hati dengan tepat agar tidak terlindas logika kita? Belum lagi jika masih ada ego yang siap untuk membuat kita menjadi semakin pongah dan tidak mau mengalah. Yang jelas, hati harus tetap ada pada tempatnya dan dalam porsi secukupnya. Karna ketika kita sudah berlebihan mengeluarkan stok sensitifitas dalam hati kita, maka kita pun harus menyiapkan cadangan mental untuk kemudian menjadi siap jika sewaktu-waktu tersakiti. Logika pun tidak perlu mendominasi aktivitas kita karna logika yang terlalu tajam seringkali mengabaikan perasaan orang lain. Masalah ego... setiap orang punya standar ego yang berbeda-beda tergantung kedewasaannya dalam bersikap dan merespon apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Allahu'alam bishowab.

Lagi-lagi mereka kembali menilaiku dengan penilaian yang hampir seragam: jutek, keras, dingin, dan sebagainya. Ternyata harus kembali pada proses kontemplasi besar-besaran dalam diri ini.....

No comments:

Post a Comment